Kamis, 19 September 2024

NGENTOT DENGAN TEMAN KECILKU

https://jaguarqqvip.net/

           

                JaguarQQ : Agen DominoQQ BandarQ dan Domino99 Online Terbesar



FORUM DEWASA -  Saya bertemu dengan sahabat saya Naralita sekarang setelah dia berkeluarga dan tinggal di Palembang, suatu hari saya bertemu lagi dengannya ketika dia bermain Yogya dengan seorang anak kecil dan suaminya, rona merah menghiasi rambut panjang dan tubuhnya yang terawat.DominoQQ

Perjumpaan di Yogya ini mengingatkan peristiwa sepuluh tahun lalu ketika ia masih kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogya. Selama kuliah, ia tinggal di rumah bude, kakak ibunya yang juga kakak ibuku. Rumahku dan rumah bude agak jauh dan waktu itu kami jarang ketemu Naralita.

Aku mengenalnya sejak kanak-kanak. Ia memang gadis yang lincah, terbuka dan tergolong berotak encer. Setahun setelah aku menikah, isteriku melahirkan anak kami yang pertama. Hubungan kami rukun dan saling mencintai.

Kami tinggal di rumah sendiri, agak di luar kota. Sewaktu melahirkan, isteriku mengalami pendarahan hebat dan harus dirawat di rumah sakit lebih lama ketimbang anak kami. Sungguh repot harus merawat bayi di rumah. Karena itu, ibu mertua, ibuku sendiri, tante (ibunya Naralita) serta Naralita dengan suka rela bergiliran membantu kerepotan kami. Semua berlalu selamat sampai isteriku diperbolehkan pulang dan langsung bisa merawat dan menyusui anak kami.

Hari-hari berikutnya, Naralita masih sering datang menengok anak kami yang katanya cantik dan lucu. Bahkan, heran kenapa, bayi kami sangat lekat dengan Naralita. filmbokepjepang.net Kalau sedang rewel, menangis, meronta-ronta kalau digendong Naralita menjadi diam dan tertidur dalam pangkuan atau gendongan Naralita.Domino99

Sepulang kuliah, kalau ada waktu, Naralita selalu mampir dan membantu isteriku merawat si kecil. Lama-lama Naralita sering tinggal di rumah kami. Isteriku sangat senang atas bantuan Naralita. Tampaknya Naralita tulus dan ikhlas membantu kami.

Apalagi aku harus kerja sepenuh hari dan sering pulang malam. Bertambah besar, bayi kami berkurang nakalnya. Naralita mulai tidak banyak mampirke rumah. Isteriku juga semakin sehat dan bisa mengurus seluruh keperluannya. Namun suatu malam ketika aku masih asyik menyelesaikan pekerjaan di kantor, Naralita tiba-tiba muncul.

“Ada apa Na, malam-malam begini.”

“Mas Danu, tinggal sendiri di kantor?”

“Ya, Dari mana kamu?”

“Sengaja kemari.”

Naralita mendekat ke arahku. Berdiri di samping kursi kerja. Naralita terlihat mengenakan rok dan T-shirt warna kesukaannya, pink. Tercium olehku bau parfum khas remaja.BandarQ

“Ada apa, Naralita?”

“Mas.. aku pengin seperti Mbak Tari.”

“Pengin? Pengin apanya?” Naralita tidak menjawab tetapi malah melangkah kakinya yang putih mulus hingga berdiri persis di depanku. Dalam sekejap ia sudah duduk di pangkuanku.

“Naralita, apa-apaan kamu ini..” Tanpa menungguku selesai bicara, Naralita sudah menyambarkan bibirnya di bibirku dan menyedotnya kuat-kuat. Bibir yang selama ini hanya dapat kupandangi dan bayangkan, kini benar-benar mendarat keras.

Kulumanya penuh nafsu dan nafas halusnya menyeruak. Lidahnya dipermainkan cepat dan menari lincah dalam rongga mulutku. Ia mencari lidahku dan menyedotnya kuat-kuat. Aku berusaha melepaskannya namun sandaran kursi menghalangi. Lebih dari itu, terus terang ada rasa nikmat setelah berbulan-bulan tidak berhubungan intim dengan isteriku.DominoQQ

Naralita merenggangkan pagutannya dan katanya, “Mas, aku selalu ketagihan Mas. Aku suka berhubungan dengan laki-laki, bahkan beberapa dosen telah kuajak beginian. Tidak bercumbu beberapa hari saja rasanya badan panas dingin. Aku belum pernah menemukan laki-laki yang pas.”

Kuangkat tubuh Naralita dan kududukkan di atas kertas yang masih berserakan di atas meja kerja. Aku bangkit dari duduk dan melangkah ke arah pintu ruang kerjaku. Aku mengunci dan menutup kelambu ruangan.

“Na.. Kuakui, aku pun kelaparan. Sudah empat bulan tidak bercumbu dengan Tari.”
“Jadikan aku Mbak Tari, Mas. Ayo,” kata Naralita sambil turun dari meja dan menyongsong langkahku.

Ia memelukku kuat-kuat sehingga dadanya yang empuk sepenuhnya menempel di dadaku. Terasa pula penisku yang telah mengeras berbenturan dengan perut bawah pusarnya yang lembut.

Naralita merapatkan pula perutnya ke arah kemaluanku yang masih terbungkus celana tebal. Naralita kembali menyambar leherku dengan kuluman bibirnnya yang merekah bak bibir artis terkenal. Aliran listrik seakan menjalar ke seluruh tubuh. Aku semula ragu menyambut keliaran Naralita. Namun ketika kenikmatan tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh, menjadi mubazir belaka melepas kesempatanini.

“Kamu amat bergairah, Naralita..” bisikku lirih di telinganya.

“Hmm.. iya.. Sayang..” balasnya lirih sembari mendesah.

“Aku sebenarnya menginginkan Mas sejak lama.. ukh..” serunya sembari menelan ludahnya.

“Ayo, Mas.. teruskan..”

“Ya Sayang. Apa yang kamu inginkan dari Mas?”

“Semuanya,” kata Naralita sembari tangannya menjelajah dan mengelus batang kemaluanku. Bibirnya terus menyapu permukaan kulitku di leher, dada dan tengkuk. Perlahan kusingkap T-Shirt yang dikenakannya.

Kutarik perlahan ke arah atas dan serta merta tangan Naralita telah diangkat tanda meminta T-Shirt langsung dibuka saja. Kaos itu kulempar ke atas meja. Kedua jemariku langsung memeluknya kuat-kuat hingga badan Naralita lekat ke dadaku.

Kedua bukitnya menempel kembali, terasa hangat dan lembut. Jemariku mencari kancing BH yang terletak di punggungnya. Kulepas perlahan, talinya, kuturunkan melalui tangannya. BH itu akhirnya jatuh ke lantai dan kini ujung payudaranya menempel lekat ke arahku.

Aku melorot perlahan ke arah dadanya dan kujilati penuh gairah. Permukaan dan tepi putingnya terasa sedikit asin oleh keringat Naralita, namun menambah nikmat aroma gadis muda.

Tangan Naralita mengusap-usap rambutku dan menggiring kepalaku agar mulutku segera menyedot putingnya.

“Sedot kuat-kuat Mas, sedoott..” bisiknya. Aku memenuhi permintaannya dan Naralita tak kuasa menahan kedua kakinya. Ia seakan lemas dan menjatuhkan badan ke lantai berkarpet tebal. Ruang ber-AC itu terasa makin hangat.

“Mas lepas..” katanya sambil telentang di lantai. Naralita meminta aku melepas pakaian. Naralita sendiri pun melepas rok dan celana dalamnya. Aku pun berbuat demikian namun masih kusisakan celana dalam. Naralita melihat dengan pandangan mata sayu seperti tak sabar menunggu.

Segera aku menyusulnya, tiduran di lantai. Kudekap tubuhnya dari arah samping sembari kugosokkan telapak tanganku ke arah putingnya. Naralita melenguh sedikit kemudian sedikit memiringkan tubuhnya ke arahku. Sengaja ia segera mengarahkan putingnya ke mulutku.

“Mas sedot Mas.. teruskan, enak sekali Mas.. enak..” Kupenuhi permintaannya sembari kupijat-pijat pantatnya. Tanganku mulai nakal mencari selangkangan Naralita. Rambutnya tidak terlalu tebal namun datarannya cukup mantap untuk mendaratkan pesawat “cocorde” milikku. Kumainkan jemariku di sana dan Naralita tampak sedikit tersentak.

“Ukh.. khmem.. hss.. terus.. terus,” lenguhnya tak jelas. Sementara sedotan di putingnya kugencarkan, jemari tanganku bagaikan memetik dawai gitar di pusat kenikmatannya.

Terasa jemari kanan tengahku telah mencapai gumpalan kecil daging di dinding atas depan vaginanya, ujungnya kuraba-raba lembut berirama. Lidahku memainkan puting sembari sesekali menyedot dan menghembusnya. Jemariku memilin klitoris Naralita dengan teknik petik melodi.

Naralita menggelinjang-gelinjang, melenguh-lenguh penuh nikmat. “Mas.. Mas.. ampun.. terus, ampun.. terus ukhh..” Sebentar kemudian Naralita lemas. Namun itu tidak berlangsung lama karena Naralita kembali bernafsu dan berbalik mengambil inisitif.

Tangannya mencari-cari arah kejantananku. Kudekatkan agar gampang dijangkau, dengan serta merta Naralita menarik celana dalamku. Bersamaan dengan itu melesat keluar pusaka kesayangan Tari. Akibatnya, memukul ke arah wajah Naralita.

“Uh.. Mas.. apaan ini,” kata Naralita kaget. Tanpa menunggu jawabanku, tangan Naralita langsung meraihnya. Kedua telapak tangannya menggenggam dan mengelus penisku.

“Mas.. ini asli?”

“Asli, 100 persen,” jawabku.

Naralita geleng-geleng kepala. Lalu lidahnya menyambar cepat ke arah permukaan penisku yang berdiameter 6 cm dan panjang 19 cm itu, sedikit agak bengkok ke kanan. Di bagian samping kanan terlihat menonjol aliran otot keras.

Bagian bawah kepalanya, masih tersisa sedikit kulit yang menggelambir. Otot dan gelambiran kulit itulah yang membuat perempuan bertambah nikmat merasakan tusukan senjata andalanku.

“Mas, belum pernah aku melihat penis sebesar dan sepanjang ini.”

“Sekarang kamu melihatnya, memegangnya dan menikmatinya.”

“Alangkah bahagianya MBak Tari.”

“Makanya kamu pengin seperti dia, kan?”

Naralita langsung menarik penisku. “Mas, aku ingin cepat menikmatinya. Masukkan, cepat masukkan.”
Naralita menelentangkan tubuhnya. Pahanya direntangkannya. Terlihat betapa mulus putih dan bersih. Diantara bulu halus di selangkangannya, terlihat lubang vagina yang mungil. Aku telah berada di antara pahanya. Exocet-ku telah siap meluncur. Naralita memandangiku penuh harap.

“Cepat Mas, cepat..”

“Sabar Naralita. Kamu harus benar-benar terangsang, Sayang..”

Namun tampaknya Naralita tak sabar. Belum pernah kulihat perempuan sekasar Naralita. Dia tak ingin dicumbui dulu sebelum dirasuki penis pasangannya. filmbokepjepang.net “Cepat Mas..” ajaknya lagi. Kupenuhi permintaannya, kutempelkan ujung penisku di permukaan lubang vaginanya, kutekan perlahan tapi sungguh amat sulit masuk, kuangkat kembali namun Naralita justru mendorongkan pantatku dengan kedua belah tangannya. Pantatnya sendiri didorong ke arah atas.

Tak terhindarkan, batang penisku bagai membentur dinding tebal. Namun Naralita tampaknya ingin main kasar. Aku pun, meski belum terangsang benar, kumasukkan penisku sekuat dan sekencangnya. Meski perlahan dapat memasukirongga vaginanya, namun terasa sangat sesak, seret, panas, perih dan sulit. Naralita tidak gentar, malah menyongsongnya penuh gairah.

“Jangan paksakan, Sayang..” pintaku.

“Terus. Paksa, siksa aku. Siksa.. tusuk aku. Keras.. keras jangan takut Mas, terus..” Dan aku tak bisa menghindar. Kulesakkan keras hingga separuh penisku telah masuk. Naralita menjerit, “Aouwww.. sedikit lagi..” Dan aku menekannya kuat-kuat.

Bersamaan dengan itu terasa ada yang mengalir dari dalam vagina Naralita, meleleh keluar. Aku melirik, darah.. darah segar. Naralita diam. Nafasnya terengah-engah. Matanya memejam. Aku menahan penisku tetap menancap.

Tidak turun, tidak juga naik. Untuk mengurangi ketegangannya, kucari ujung puting Naralita dengan mulutku. Meski agak membungkuk, aku dapat mencapainya. Naralita sedikit berkurang ketegangannya.

Beberapa saat kemudian ia memintaku memulai aktivitas. Kugerakkan penisku yang hanya separuh jalan, turun naik dan Naralita mulai tampak menikmatinya. Pergerakan konstan itu kupertahankan cukup lama. Makin lama tusukanku makin dalam. Naralita pasrah dan tidak sebuas tadi.

Ia menikmati irama keluar masuk di liang kemaluannya yang mulai basah dan mengalirkan cairan pelicin. Naralita mulai bangkit gairahnya menggelinjang dan melenguh dan pada akhirnya menjerit lirih, “Uuuhh.. Mas.. uhh.. enaakk.. enaakk.. Terus.. aduh.. ya ampun enaknya..” Naralita melemas dan terkulai. Kucabut penisku yang masih keras, kubersihkan dengan bajuku. Aku duduk di samping Naralita yang terkulai.

“Naralita, kenapa kamu?”

“Lemas, Mas. Kamu amat perkasa.”

“Kamu juga liar.”

Naralita memang sering berhubungan dengan laki-laki. Namun belum ada yang berhasil menembus keperawanannya karena selaput daranya amat tebal. Namun perkiraanku, para lelaki akan takluk oleh garangnya Naralita mengajak senggama tanpa pemanasan yang cukup. Gila memang anak itu, cepat panas.

Sejak kejadian itu, Naralita selalu ingin mengulanginya. Namun aku selalu menghindar. Hanya sekali peristiwa itu kami ulangi di sebuah hotel sepanjang hari. Naralita waktu itu kesetanan dan kuladeni kemauannya dengan segala gaya. Naralita mengaku puas.

Setelah lulus, Naralita menikah dan tinggal di Palembang. Sejak itu tidak ada kabarnya. Dan, ketika pulang ke Yogya bersama anaknya, aku berjumpa di rumah bude.

“Mas Danu, mau nyoba lagi?” bisiknya lirih.

Aku hanya mengangguk.

“Masih gede juga?” tanyanya menggoda.

“Ya, tambah gede dong.”

Dan malamnya, aku menyambangi di hotel tempatnya menginap. Pertarungan pun kembali terjadi dalam posisi sama-sama telah matang.

“Mas Danu, Mbak Tari sudah bisa dipakai belum?” tanyanya.

“Belum, dokter melarangnya,” kataku berbohong.

Dan, Naralita pun malam itu mencoba melayaniku hingga kami sama-sama terpuaskan.

https://jaguarqqvip.net/


Rabu, 18 September 2024

DIAJARIN NGENTOT SAMA BIBI CUCI

https://jaguarqqvip.net/

            JaguarQQ : Agen DominoQQ BandarQ dan Domino99 Online Terbesar


FORUM DEWASA - Saat itu aku berusia sekitar 14 tahun jalan 15 tahun dan duduk di bangku SMP di akhir dekade 80’an, o iya perkenalkan namaku Santo (samaran) tinggal di komplek perumahan di pinggiran Jakarta. Aku adalah anak tunggal, sedangkan kedua orang tuaku bekerja di Jakarta.

Sehari-hari aku ditemani tukang cuci atau pembantu yang pulang hari bernama Mak Iyem berperawakan tinggi semampai sepasang buah dadanya pun besar dan terlihat masih montok.

Kutaksir usianya sekitar 59-60an, seorang janda yang memiliki satu orang anak perempuan bernama mpok Siti yang juga sudah memiliki anak perempuan yang usianya dua tahun diatas aku dari perkawinannya dengan bang Ajo sopir Bajaj di T.A. Berawal dari kebiasaan menonton film porno sepulang di rumah sahabatku Ucok membuat aku seringkali menuntaskan dengan beronani sesampainya dirumah.DominoQQ

Siang itu sepulang sekolah dan menonton film porno aku tergesa-gesa pulang ke rumah dengan maksud hendak segera menuntaskan hasrat seksualku dengan onani. Kudapati mak Iyem sedang mencuci baju kami di kamar mandi (kebetulan kami hanya memiliki satu kamar mandi).

Aku merasa tidak sabar jika harus menunggu mak Iyem selesai mencuci, maka aku pura-pura mau buang air supaya mak Iyem keluar dahulu dari kamar mandi. Akupun segera menuntaskan hasratku dengan onani sambil melihat kartu remi bergambar wanita telanjang, setelah hajatku tuntas mak Iyem kembali masuk ke kamar mandi untuk menyelesaikan mencuci baju. Aku sedang mendengarkan radio saat mak Iyem masuk ke kamarku lalu duduk di tempat tidurku sambil berkata

“Anto kamu tadi ngocok di kamar mandi ya ?”, Aku kaget dan malu mendapat petanyaan yang tiba-tiba seperti itu.BandarQ

“Eng.. iya mak, kok emak tau ?”. (sambil mukaku merah karena malu).

“Iya orang pejuh kamu tadi masih licin di kamar mandi. Mak perhatiin kamu kalau pulang sekolah mesti Ngocok, ngga bagus tau… Bisa ngerusk mata kamu.

“Masa sih mak ?”, (penuh rasa ingin tahu dan ketakutan).

“Ngocok itu ngeluarin pejuh yang dipaksa’in, pas kamu keluar pasti kamu merem. Itu yang bikin nanti mata kamu rusak”, (waduh bener juga nih dalam hati, padahal itu cuma tipu2 dia aja).

“Masa sih mak ?”.

“Masa, masa, kalo dibilangin, kalo mau ngeluarin pejuh entu kudu bari megang atawa ngeliat punyanya perempuan To, sini emak ajarin kamu”, (sambil nyuruh aku duduk di tempat tidur). Domino99

Aku hanya pasrah karena malu, takut dan rasa ingin tahu campur aduk jadi satu. Setelah aku duduk dan membuka celana pendek biruku, mak Iyem menyodorkan teteknya yang besar kemuka ku sambil tangannya mengelus-ngelus si otong.

‘Pegang… terus isep tetek emak, nih pegang juga memek emak ya”.

Akupun menuruti perintahnya dengan hati girang karena baru kali itu melihat dan meraba langsung organ intim wanita. Dalam hitungan detik si otong yang belum lama baru lemes sudah tegang lagi saking senengnya.

“Iyaa… maenin pentil emak pake lidah kamu, terus colok-colok memek emak”, katanya.

Sekitar 3 menit memainkan memek dan teteknya, Mak Iyem menyuruh aku tiduran.

“Kamu tiduran deh punya kamu udah keras banget, emak ajarin cara yang bener ngeluarin pejuhnya”.DominoQQ

Akupun menuruti saja apa yang diperintahkannya sambil tidak lama mak Iyem menduduki kemaluan dengan terlebih dahulu memasukan kemaluan remajaku yang tidak seberapa besar.

Rasanya nikmat bagai di awang-awang, jauh lebih licin dan hangat ketimbang kalau aku onani dengan menggunakan sabun. Sekitar sepuluh kali mak Iyem naik turun diatas kontolku, kontolkupun muntah. Maklum saja ini adalah pengalaman pertamaku. Mak Iyem segera mengelap kontolku dari sisa lendir sperma yang bercampur cairan kemauannya dengan celana dalam yang rupanya sudah sedari tadi dikantungi di saku daster lusuhnya.

“Enak kan ?”, ujarnya.

“Iya mak”, jawabku.

Besok-besok lagi kalau kamu pengen mending ngomong aja sama emak, biar emak bantuin ya. Aku pun mengangguk sambil bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dari lendir yang masih terasa lengket di sekitar kemaluannku.

Beres menuntaskan hasrat, aku tertidur karena lemas akibat dua kali mengeluarkan sperma dalam waktu tidak lebih dari setengah jam. Ada perasaan lega, puas, dan penyesalan yang amat sangat karena aku sadar telah melakukan perbuatan tersebut.

Mak Iyem melanjutkan membereskan rumah dan memasak untuk makan malam keluarga kami. Esoknya, sepulang sekolah sengaja aku tidak mampir untuk menonton film porno di rumah Ucok.

Pikirku aku tidak mau mengulangi perbuatan dosa yang teramat besar seperti hari kemarinnya. Di rumah aku melihat Mak Iyem sedang memcuci baju, sedangkan aku segera tidur setelah sebelumya makan dan mengganti baju putihku dengan kaus.

Hari ini tidak terjadi apa-apa, syukurlah dalam hatiku. Hari berikutnya (kebetulan hari Jum’at), aku tidak dapat menghilangkan keinginanku untuk bisa berhubungan kembali dengan Mak Iyem.

Di sekolahpun sulit sekali aku berkonsentrasi dari membayangkan tetek besar mak Iyem dan memek tuanya yang rimbun. Aku berniat ingin segera tiba di rumah. Segera setelah jam belajar berakhir aku pulang dan kudapati rumahku masih terkunci. Memang biasanya Mak Iyem datang ke rumahku sekitar pukul satu siang.

Aku urung masuk tapi berbalik ke rumah Mak Iyem yang jaraknya kurang lebih 200 meter dari kediamanku dengan alasan pinjam kunci, aku bilang kunciku lupa tertinggal di dalam rumah. Setelah aku bicara setengah berbisik rupanya Mak Iyem mengerti kalau aku sedang kebelet ingin berhubungan badan, sambil memberikan kunci rumah yang biasa dipegangnya, dia bilang.

“Ya udah nih kucinya emak juga sebentar lagi ke sono, nyelesein goreng kerupuk dulu ya”, Aku menanti dengan gelisah kedatangan Mak Iyem.

Tak lama berselang Mak Iyem pun datang sambil tak lupa mengunci pintu depan rumah kami.

“Udah ngebet ya To ?”, tanyanya, aku mengiyakan sambil menarik mak Iyem ke dalam kamar.

Hari ini penampilan Mak Acah tidak seperti biasanya, ada harum deodoran murahan di tubuhnya. Setelah aku periksa, BH dan celana dalamnya pun tidak lagi lusuh dan dekil seperti kemarin. Akupun semakin terangsang untuk segera membuka BH dan menyusu di teteknya yang besar.

“Sekarang jangan keburu-buru kaya kemaren To”, ujarnya.

Aku mengangguk sekedar mengiyakan sambil tanganku sibuk ngobel-ngobel memeknya yang masih terbungkus CD.

“Hari ini emak mau ngajarin yang laen, kontol kamu pernah diisep ngga?”, Tanya mak Iyem.

“Kayak di film BF ya Mak ?”, kataku balik bertanya.

Mak Iyem tidak menjawab, namun tangannya sibuk membuka baju seragamku hingga aku bugil.

Sesaat kemudian kurasakan kontolku yang memang sudah ngaceng sedari tadi dihisap dan dikulum oleh bibirnya. Sensasinya jauh lebih nikmat ketimbang hari kemarin, aku hanya dapat mematung merasakan permainan lidah dan bibirnya yang menghisap kemaluanku.

Tak berapa lama spermaku keluar diiringi desahan nikmat dari bibirku. Mak Iyem dengan telaten terus menghisap dan menjilat helm nazi si otong. Air maniku memenuhi rongga mulutnya, sebagian mungkin tertelan dan sebagian lagi dilapnya dengan seragam putihku yang berserakan di lantai. Akupun terduduk puas dan lemas tak terkirakan.

“Tuh kan, kamu buru-buru banget”, ujarnya.

“Udah kebelet mak”, jawabku sekenanya.

“Ya udah kamu ganti baju terus makan, emak mau ngerendemin baju kotor. Entar kalau kamu udah kepingin lagi baru kita ngewe pungkasnya”.

Selesai makan dan istirahat sejenak di kamar rupanya si otong udah kepingin lagi, kupanggil si emak yang saat itu sedang menyapu teras depan.

“Mak sini mak, udah kepingin lagi nih”, ucapku.

“Ah cucu emak, emang kamu ngga Jum’atan ?”, tanyanya.

Aku menggeleng sambil menarik si emak untuk direbahkan diatas tempat tidur.

“Jangan-buru-buru To, emak juga kudu dipuasin”, ujarnya.

“Dipuasin bagemana mak ?”.

“Nih emak ajarin”, Sambil meloloskan celana dalamnya dalam posisi terlentang diatas tempat tidurku. Cerita Sex

“Emak tadi udah jilatin punya kamu, sekarang giliran kamu jilatin memek emak ya”.

Berbekal pengalaman menonton BF dan arahan si emak aku menuruti perintahnya. Mula-mula cuma kupegang dan kucolok saja memek mak Iyem, namun mak Iyem memintaku untuk menjilati tonjolan daging kecl dan jengger ayam disekililng memeknya.

Aku menurut, ada bau khas yang baru kali ini aku rasakan bercampur dengan wangi sabun mandi (rupanya si emak sudah mencuci bersih terlebih dahulu memeknya). Lama-lama aku terbiasa dengan aroma yang kucium dan terasa memek si emak makin basah oleh ludahku bercampur cairan kental khas organ intim wanita.

Aku hanya mengikuti apa yang diperintahkan si emak dengan diselingi desahan mesumnya. Kurang lebih lima menit tubuh si emak mengejang sambil tangannya mendekap kepalaku agar tetap menempel di memeknya. Rupanya si emak sudah orgasme, saat itu aku belum mengerti.

Sejurus kemudian emak meraih kontolku yang sudah mulai mengeras kembali. Dengan telaten dia menciumi dan mengulum kontolku hingga betul-betul terasa keras. Setelah dirasa tegang, emak mengarahkan kontolku kememeknya sambil memerintahkan aku untuk bergerak maju mudur.

Nikmatnya benar-benar sensasional walau terasa betul kalau memek si emak becek oleh lendir sisa dia orgasme. Kali ini permainanku cukup lama hingga cukup memuaskan si emak dengan kembali orgasme berbarengan dengan mucratnya lahar panas dari kontolku.

Kami menyudahi permainan ini dengan sama-sama puas, akupun tertidur setelah memakai pakaian dan mencuci kontol sebelumnya. Sekitar pukul setengah empat aku dibangunkan oleh emak yang sudah selesai mengerjakan pekerjaan dirumahku.

“Mau ngewe lagi ngga To ?”, emak bertanya kepadaku.

Aku mengiyakan dan memulai pelajaran ngewe gaya doggy. Emak tidak mencapai orgasme, maklum aku masih cupu sehingga tidak bisa menahan nafsu.

“Ngga apa-apa, nanti juga lama-lama aku pintar”, pungkasnya.

Emakpun pulang dan aku mandi dengan penuh kepuasan. Sejak saat itu kami rutin melakukan hubungan intim.

Setidaknya seminggu empat kali kami melakukannya, kebetulan emak sudah menupause sehingga jadwal kami tidak pernah terganggu.

https://jaguarqqvip.net/


Selasa, 17 September 2024

BERCINTA DENGAN KAKAK IPAR SEMOK

https://jaguarqqvip.net/

             JaguarQQ : Agen DominoQQ BandarQ dan Domino99 Online Terbesar



FORUM DEWASA - Dulu semasa pacaran dengan istri gw yang sekarang, sebenarnya gw juga udah kesengsem berat ama Mbak Epi (kakak iparku). Gimana tidak, dibandingkan dengan isteri gw, Mbak Epi memiliki tubuh yang lebih proporsional sedangkan istri gw memiliki tubuh mungil. Terkadang saat masa pacaran dulu. Gw sempat-sempatin ngintip Mbak Epi lagi mandi di sumur belakang rumah.

Gw paham betul kapan Mbak Epi pulang kerja, dan jam dia mandi gw pun hapal, gw catat dalam otak gw. Apalagi rumah mertua gw ini memiliki 2 ruang kamar mandi, keduanya hanya d batasi oleh sekat triplek dan sumur yang dipake oleh kedua kamar mandi tsb. Ini sangat mendukung sekali buat aksi gw. Btw… Mbak Epi selalu menjadi fantasiku, bahkan saat gw mencumbu isteri, gw juga selalu membayangkan sedang mencumbui Mbak Epi.DominoQQ

Pendek cerita, saat gw telah menikahi adiknya. Dan begitu pula Mbak Epi, udah menikah dan d karunia anak. Kami sama-sama menyewa rumah sederhana di komplek yang sama, hanya beda beberapa blok aja.

Hari itu gw senang banget, ketika istri gw minta tolong ke gw untuk menemanin Mbak Epi berbelanja ke salah satu swalayan di kota, kebetulan suaminya lagi merantau ke Jakarta. “ Mas tolong temenin Mbak Epi dong belanja!” pinta istri gw. “Lho kenapa gak kamu aja” gw bilang dengan pura2 jual mahal. “ Loh nanti yang jaga anak2nya siapa? Mas mau jaga anak2nya? Lagian Mbak Epi butuh tenaga laki2 buat ngangkatin belanjaannya,” jelas istri gw. “Ya udah deh,” gw pun mengalah. “ ya udah mas ke Mbak Epi dulu ya..” Mama jaga rumah ama anak2 aja,”…gw pun segera berjalan kaki menelusuri blok di komplek menuju rumah Mbak Epi.

Tok Tok Tok, Assalammualaikum!! Teriak gw dari luar rumah Mbak Epi. “Waalaikum salam, masuk aja To…., Mbak lagi mandi nih,” Mbak Epi menyahut dari kamar mandinya. “Waduh, asyik si Mbak lagi mandi, titit gw kegirangan neh,”…gw langsung aja masuk kedalam rumahnya yang hanya berukuran 5 X 6…dan kamar mandinya itu dari pintu masuk rumah juga udah kelihatan.BandarQ

Gw dengar suara siraman air dari dalam kamar mandi, sayup-sayup suara merdu Mbak Epi melantunkan lagu Si Jablay..lay…lay..panggil aku si Jablay….gw agak geli juga dengar lagu itu….koq kayaknya Mbak Epi..sedang menceritakan keadaan dirinya ya..bisik hatiku.

Wah kalo dipikir2 Mbak Epi ini emang lagi Jablay, bayangin aja ada perempuan yang udah 3 bulan belum di gituin, ada didekat gw, lagi mandi, dan lantunin lagu Jablay…loe semua pasti langsung mikirin yang ngeres2 kan? Gw pun gitu….

Plak, plak, plak, pelan2 gw dekatin pintu kamar mandi, gw yakin bener kalo rumah type Perumnas kayak gini, pasti pintu kamarmandinya ada yg cacat. Dag dig dug jantung gw, rasanya masih belum percaya gw berdua didalam rumah bersama Mbak Epi Sang Fantasi gw. Perlahan namun pasti gw mulai membuka untuk mencari celah, sebesar lubang semut pun gw telusuri…..Nah Kena deh! Pekik hati gw….ada lubang yang cukup buat ngintip neh…buru2 aja gw tempelin mata gw ke lubang itu…Domino99

Dan..hasilnya…astaga..bener2 pemandangan yang indah, tubuhnya gak pernah berubah sedikit pun, tetap putih, molek dan bahenol, wuih ,,apalagi kalo lagi basah begitu, titit gw langsung ngaceng. Gw bisa ngelihat sangat jelas rambutnya yang panjang lagi dilumurinya dengan shampoo, wajahnya yang mirip Sophia Latjuba itu smakin cantik kalo lagi basah, tubuhnya yang montok mirip KD sama seperti dulu saat masih gadis, padahal anaknya sudah dua org loh…wuih,..gw telusurin pandangan gw mengikuti alur garis tubuhnya dari atas kepala..wow…semua basah, lehernya jenjang, dan tokednya, wuih…..36D yang sempurna dengan putting yang kemerahan…bersyukur sekali suaminya punya istri kayak Mbak Epi ini, pikir gw.

Perutnya rata walaupun ada sedikit goresan selulit, tapi itu tidak menjadi halangan fantasiku. Ku telusuri lagi kulit perutnya yang putih ditambah pusar yang sexy dan bulu-bulu yang halus yang menghiasi dari pusar hingga memeknya. Tidak terlalu lebat dan sepertinya terawatt. Gw langsung membayangin, kapan ya gw bias ngisep memeknya itu…wuih..pasti enak..dan so pasti pejunya akan gw sedot sampe habis.

Tanpa dikendalikan sendiri tangan gw udah mulai mengelus2 titit gw, sambil ngebayangin kalo titit gw udah masuk k memeknya Mbak Epi. Oh…nikmat sekali, kalo fantasiku terkabul.

Selagi gw menghayal gitu, tiba-tiba “To….sabar ya To…Mbak lagi keramasan dulu, kamu nonton2 TV aja dulu,” teriak Mbak Epi, yang mengira aku masih duduk di ruang tamu.

Gw pun terkejut, dengan segera gw agak berlari kecil menuju kursi di depan TV, dan duduk, lalu “Ya Mbak, santai aja, lagian Swalayannya kan gak lari kemana-mana,” jawab gw. Trus gw balik k pintu kamarmandi lagi, ngintip lagi….

Wah…lagi ngapain sih mbak…Oh…lagi ngolesin lotion khusus kewanitaan di memeknya,…wow…gw terkesima banget…memeknya..liang memeknya merah muda…bersih sekali..apa Mbak Epi jarang di entot ama suaminya ya, piker gw.DominoQQ

Satu persatu tumpahan lotion di tapak tangannya diolesinya ke memeknya, jari2nya pun ikut andil, bermain2 disekitar memeknya. Ku lihat Mbak Epi, agak merem melek..wah wah Mbak Epi mau mastrubasi neh, koq gak ngajak2 gw mbak, bisik hati gw. Beberapa kali gw lihat tubuhnya menggelinjang kegelian, “Mbak..ajak gw dunk’” bisik hati gw lagi.

Ah, gw jadi kepikiran, jangan2 Mbak Epi tadi malam juga masturbasi sendiri, soalnya koq dia keramasan, gw curiga neh,…puranya gw selidiki kamarnya jangan2 dia ada maen ama tetangga tadi malam,

Gw cek meja di ruang tamunya, siapa tahu ada puntung rokok, ternyata gak ada, terus gw beraniin kekamar tidurnya, siapa tahu ada barang bukti di situ. Hmm…gak ada yang ada bra ama celana dalamnya yang teronggok sembarangan di lantai….gw..iseng neh…gw ambil bra dan celana dalamnya itu…

Wow…lihat pakaian dalamnya aja gw dah ngaceng neh, gimana neh, langsung aja gw cium2in pakaian dalamnya, hmmm…harum tubuhnya masih melekat di bra ama celaa dalamnya…gw..pun berbaring di kasurnya. Gw cari bantal guling, gw bentangin bra ama celana dalamnya, gw ikat di bantal guling, seolah2 gw lagi masangin pakaian dalam kebantal guling….gw makin semangat,..gw cumbuin bantal guling…itu …seolah2 gw lagi cumbuin Mbak Epi.

Gw..ciumin bra dan celana dalamnya, pas waktu cium celana dalam, astaga apa ini…wah..wah ini cairan peju Mbak Epi nempel di celana dalamnya…wah gw yakin Mbak Epi tadi malem masturbasi neh..gw makin semangat gw langsung telanjang menindih sambil menggesek2 titit gw di bantal guling itu.

Gw semakin beringas mneciumin celana dalam Mbak Epi yang terkena noda pejunya. Gw makin bernafsu gw isep noda yang sedikit lengket itu dengan lidah gw..kemudian gw kulum2 dan gw telan,…gw nafsu banget…oh.. Mbak Epi desisku…..Gw…semaikin mempercepat goyangan titit gw di bantal guling, lagi asyiknya menggoyang, “Blek…sebuah tangan halus mencengkram titit gw yang lagi ngaceng,”…To….” Sini biar yang aslinya aja kamu entot…”Astaga suara halus itu, gw tanda benar, itu suara Mbak Epi yang menyapa dan memegang titit gw dari belakang.

“Eh Mbak,” gw malu smalunya….”Kamu ngapain To,” Tanya Mbak Epi sambil mesem-mesem. “Eh anu Mbak…anu..ku..” gw gelagapan banget. “Kenapa Anumu, sini biar Mbak aja,” Mbak Epi tiba2 aja sudah mengulum bibir sembari tetap meremas titit gw.

M..m..m..….gw…kebingungan campur kesenangan….hmm…h..orang yang selama ini menjadi fantasi gw sekarang ada didepan gw..menciumin bibir gw dengan buas sambil meraba2 titit gw….”To..kamu tadi ngayalin Mbak ya?” tanyanya sambil tak melepas pagutan bibirnya…”Ng..ng..…iya mbak, udah lama sih, gw ngayalin mbak.” Terang gw jujur.

“Mbak dah tau koq, udah dari dulu kan, kamu kayak gini,” sekarang bibirnya menciumin leher gw. “Lho mbak koq tau,” gw kaget. “Tau dong, kamu kan sering ngintipin mbak mandi,” jelasnya…Ouh…tangannya udah mulai membuka kancing baju gw….”Lho mbak dah tau koq gak ngelarang,” tanyaku sambil meraba2 bokongnya yang padat di balik handuknya yang belum sempat dilepasnya. “Ngapain dilarang, wong Mbak suka diintipin sama kamu, wong waktu kamu onani, mbak juga lagi bayangin kamu saat mandi,” Mbak Epi menatap gw dalam, seolah2 dia juga mau ngungkapin bahwa gw juga adalah fantasinya.

“Lho mbak selama ini juga berfantasi tentang gw,” tanyaku tak percaya sembari mengelus dagunya yang mulus. “Ia To, udah ah, jgn banyak omong aja, ayo entotin mbak, to,” pintanya. Pastilah… Mbak akan gw hajar habis2an pekik gw kegirangan, ternyata gayung bersambut neh.

Buru-buru gw tarik handuk merah mudanya, wow….tubuhnya, beda banget ama istri gw, putih, montok, sintal dan sexy…gw..ciumin kembali lekuk2 tubuhnya dari leher hingga kepundak…wow…aroma shampoo dan sabun yang dipakai nya tadi serasa sebagai pembangkit libido gw…gw..semakin berani…gw balikin tubuhnya yang tadi menindih gw , sekarang giliran gw diatas

Gw, remas2 tokednya…hmmm….”oouh,,,mbak toked mbak bagus banget,” bisik gw ditelinganya, Mbak Epi hanya tersenyum, “Lho adikku kan juga bagus tokednya To”. “Tapi gak sebagu toked mbak,” balas gw lagi , sekarang gw lagi ngulum2 putingnya…OOuh…To….enak To…ooouh…kamu pinter banget ngulumin putting ya…canda dan rengekan Mbak Epi membuat gw semakin membabi buta, gw kenyot2 tokednya, “Awas keluar susunya loh To, ntar nyembur ke mulut kamu,” pintanya. Oh iya, gw baru teringat anak Mbak Epi yang bungsu kan masih bayi, pasti masih banyak Asi dalam tokednya. “Nyot nyot….gw gak pedulu yg dikatakan Mbak Epi, tokednya semakin kencang gw kenyot, Mbak Epi pun menggelinjang, tokednya mengeras..dan crot…susunya keluar,…wow…ge pun makin lupa diri, gw isep dalam2 air susu yang keluar dari tokednya…gw..telan..gw..isep lagi…gw..telan lagi…Mbak Epi pun….oouh…To..oouh..to…ebak banget…..lebih kencang lagi….karena keenakan tangan Mbak Epi pun mulai geraangin resleting gw….

Gw…pasrahin diri gw buat loe mbak, bisik gw….”To gentian ya, sekarang Mbak yang isep titit kamu,” pinta Mbak Epi manja. “ Y wes Mbak, hajar aja,” kata gw.

Mbak Epi pun bangkit dari tindihan, kembali lagi gw dibawah posisinya. Dia udah membuka celana, dimulainya dengan mengelus titit gw dibalik celana dalam gw. Elusannya nikmat sekali, sekali2 dia menggigit titit yang masih tertutup celana dalam itu, dan mungkin saking gak sabaran dia tarik celana dalam ku sampai lutut.

“Wow…To, bener yang Mbak hayalin selama ini, indah sekali titit mu, gak gede, tapi bersih, enak nguluminnya..gak jorok..” Mbak kulum ya…tanpa menunggu jawabanku…titit gw udah berada didalam mulutnya…lidahnya bemain2 di palkon gw…ooouh mbak enak banget….desis gw….”Enakkan saying…….,” Mbak Epi menyapa gw seperti itu…”Slurp Slurp..Oumm..ghehjwae…” suara Mbak Epi semakin gak jelas….kayaknya dia sangat bernafsu memainkan titit gw.

“Enak banget To…”Slurp Slurp..Oumm..ghehjwae…” “emang selama ini ama suami mbak gak seenak ini?” Tanya gw. “Bukannya gak enak, tapi mbak gak pernah mau kalo disuruh ngemut tititnya, jorok, item, bau lagi,” jawab Mbak Epi sekenanya aja.

Oh..ak pun terdiam menikmati permainan lidah dan mulut Mbak Epi….Ouh..semakin lama semakin nikmat…” To masukin aja To,” ntar bini kamu datang kemari pula…cepatan diselesaikan aja…To..udah gak tahan pengen disiram ama sperma kamu.”
“Wow….ini ditunggu2 lho Mbak, gw pun gak mau diema, takut nanti pernyataannya ditarik kembali, gw telentangin Mbak Epi, gw kangkagin pahanya…..oouh my god…..ternyata ini bukan mimpi…akhirnya…dapat juga….bisik gw…Gw pun langsung aja…masukin titit gw ke memeknya…Bless…..”Ouh…” terdengar rintihan Mbak Epi halus. Hm…To…..hmm…agak d cepat aja…To….hmm….aaouh……To….cepat… aja..To..” Mbak takut ketahuan istri mu nanti.

“Tenang Mbak gak asyik dong kalo buru-buru” bisik gw ditelinganya Mbak Epi sembari mempercepat goyangan gw…Gw lihat Mbak Epi merem melek sambil mengigit kedua bibirnya…tangannya pun meremas pantat gw sangat kencang, sekali2 tangganya ikutmembantu pantat gw untuk maju mundur..bles..bles..bles…titit gw pun makin kencang amles dimemeknya….OOuh..To….Gak Tahannn….Too…..cepat…makin kencang….gw….pun semakin semangat….kayaknya Mbak Epi mau keluar..nih….gw tambah kecepatan maju mundurnya…Bles, Bles, Bles,….OOOuhhh……..To……….Mbak,… ….KeluaaaAAArrrrr….!!! AAh,,,,,,

Ah…Gw…kaget…gw…juga belum apa2 Mbak……desah gw….Mbak Epi terkulai lemas….dibawah gw….tokednya ama dada gw pun beradu…gw pompa Mbak Epi dengan halus….

“Ouh To…Mbak kan udah keluar, masa di goyang lagi sih?” Tanyanya. Tapi Gw kan belum mbak,jelas gw…Mbak Epi hanya geleng2 mesem…Ya udah deh, kata Mbak Epi halus. Gw pun mulai serius di ayunan titit gw…sekali-kali titit gw, gw hentak kedalam memek Mbak Epi, Mbak Epi terkejut sembari mekik..” OOOuh….”..gw…perhalus lagi goyangannya..ge hentak lagi..”OOuh” teriak Mbak Epi….oouh To ku pinter banget bangkitin libido mbak lagi…tangannya mncubit pantat gw…..Ya iyalah Mbak…..masa ya iya dong,” canda gw.

OOuch….to..enak …..banget….ouch….ka….oouc h…..” cplo cplo cplot…suara lender dari titit gw yang beradu ama memek Mbak Epi terdengar jelas..memeknya yang tadi banjir, sekarang semakin banjir….gw…semakin semangat aja….Mbak…..gw..percepat ya..mbak biar cepat selesai…iya To..cepatan ah…..CPLOT.. CPLOT.. CPLOT… CPLOT… CPLOT… CPLOT…diringi desahan Mbak Epi…AHHH…CPLOT… AHHH…CPLOT… AHHH…CPLOT… AHHH…CPLOT…….aauh..mbak….aku udah mau keluar……..Crooottt…..gw pun terkulai lemas diatas tubuh Mbak Epi. Keringat mengucur di tubuh kami berdua….. Mbak Epi pun dengan lembut membelai rambut gw, “Makasih ya To, kamu udh muasin Mbak,…walau kita ngelakuinnya buru2,” bisiknya. “Lain kali kita buat dengan santai aja ya To, tanpa ada rasa takut ketahuan,” Mbak Epi meminta. “Wah Mbak siapa yang mau nolak, wong gw aja udah bayangin pengen entotin Mbak dari dulu,” kata gw semangat. “ Hi hi hi kitakoq sama ya To…” kami pun tertawa pelan berdua di kamar……….

Setelah berbenah, gw dan Mbak Epi pun segera keluar dari rumah. “Mbak jadi kan kita shoopingnya?” Tanya gw. “Ya iyalah To.., nanti Mbak mau makan apa?” Stok bulanan udah habis nih.” Yuk kita berangkat.” Mbak Epi menarik tangan gw menuju pintu depan. “Mbak tunggu” gw buru-buru mendaratkan ciuman kebibir Mbak Epi yang merah karena lipstick. Kami pun berpagutan sekenanya.TIba-tiba. “Mbak! Mbak!” suara itu suara isteriku.

Gw dan Mbak Epi gelagapan, Mbak Epi menyeka bibirku yang memerah karena lipstiknya, “To usap dulu lipstick di bibirmu itu.” “Oh ya, thanx ya Mbak,” bisik gw. Gw pun segera membuka pintu. Di luar tampak istri gw sedang duduk di kursi teras. “Lho Mas koq belum berangkat, lama sekali pergi shoppingnya?” tanyanya.

Mulut gw gagu, bingung mau jawab apa, untung aja Mbak Epi buru-buru menimpal, “ Itu loh dik, Mbak tadi nyetrika bentar, soalnya gak ada baju yang pantas buat jalan2 ke Mall, pada kusut semua.” “Wah syukur Alhamdulillah,” bisik gw.

“Oh…ya wis mbak, aku juga tadi mau nanya, Mbak ntar malem mau gak makan malam di rumah kami, soale Mbak kan belum sempat masak, ini kan udah sorean,” Tanya isteri gw. “Waduh senangnya kalo Mbak Epi makan malam di rumah,” bisik gw lagi.

Singkat cerita, selama kami berdua shopping, kami berdua bagai kan pasangan suami isteri, sepanjang rak-rak swalayan yang kami lintasi, rangkulan gw di pundak Mbak Epi gak pernah lepas. Kami sempat-sempatin minum Es Krim di Fountain CafĂ© di Plaza M. Kami pun bercengkrama sambil menyusut siasat, gimana caranya bisa ‘fight’ lagi ntar malem, tanpa diketahui ama isteri gw.

Malam pun tiba, gw dirumah udah mulai dandan serapi dan sewangi mungkin, untung aja isteri gw gak curiga, hanya saja dia geleng-geleng kepala, sembari nyeletuk, “Mas ini loh, mau makan malam bareng Mbak Epi, kayak mau makan malam sama mantan pacarnya aja.” Gw cuma balas ringan, “ Ah mama ini, gw make baju rapi dan wangi gini, karena tadi tuh emang keringatan banget dan bau, habis belanjaan Mbak Epi banyak banget.

“Assalammualaikum…!” sekarang suara Mbak Epi terdengar merdu ditelinga gw. “Masuk Mbak,” sahut istri gw. Pintu pun dibuka. Diluar sana tampak Mbak Epi berdiri dengan anggunnya. Walau hanya dengan baju daster tanpa celana tidur. Rambutnya diikat kucir kuda, bibirnya hanya dipoles dengan lipsgloss, tampak perona pipi menyapu lembut di pipinya yang mulus. Baju dasternya yang berwarna hijau muda, membuat Mpak Epi tampak semakin sexy, apalagi baju dasternya hanya sebatas lutut. Mbak Epi tersenyum pada gw yang sedang duduk menunggu 

“Eh masuk Mbak…” gw pun menggeser kan kursi yang posisinya berada diseberang sisi kursi gw, dengan kata lain kursi gw ama kursi Mbak Epi berhadap-hadapan. “Wah gw heran, koq gw dag dig dug begini ya, kegirangan bagai ABG yang baru pacaran aja,” desis gw. Mbak Epi pun mengambil posisi yang udah gw atur sedemikian rupa tadi. “Hmm….parfum yang dia gunakan, semakin menambah keinginan gw melalap habis tubuhnya semakin kuat, sabar ya Mbak..ntar lagi loe akan gw ‘habisin’” gw celoteh sendiri dalam hati.

Gw perhatiin aja Mbak Epi sedari tadi ngobrol bareng isteri gw, sementara gw deg deg ser sendirian, gw udah gak tahan nih, Mbak Epi kayaknya keasyikan ngobrol, hingga lupa sama rencana yang udah kami susun tadi, “ Ah ngapain nunggu lama-lama, mending gw aja yang duluan action nih.” Perlahan kaki gw yang sedari tadi gelisah, gw arahan menuju kursi yang di dudukin Mbak Epi. Mulanya gw coba mencubit betis Mbak Epi dengan jempol kaki gw, buat ngasih kode aja, eit, Mbak Epi noleh, dan senyum, kayaknya ia baru tersadar kalo dia tadi kelupaan dengan rencan kami.

Senyumannya seakan sebagai pertanda, kalo gw boleh memulai aksi selanjutnya. Dari betisnya, gw naikkin lagi jari-jari kaki gw kearah lututnya, gw main-mainin disekitar lutut dulu, kemudian dilipatan lutut dan betis, gw lihat Mbak Epi merem-merem sembari ngobrol, isteri gw gak merhatiin, soalnya w ngelakuinnya sambil pura-pura makan.

Dari lutut, jari-jari kaki gw bergerak kearah pahanya, disana agak lama gw mainin jari-jari kaki gw, soalnya gw lagi berusaha menjepit kain dasternya pake jempol kaki gw, agak sulit sih, tapi untung aja gak makan waktu lama. Akhirnya kain dasternya terjepit juga, gw geser kain dasternya keatas pahanya, stengah pahan Mbak Epi sekarang sudah teraba oleh tapak kaki gw.

Sekarang kaki gw berada tepat diatas pahanya. Disitu gw mainin sedikit dengan memaju mundurkan tapak kaki gw, seperti tangan yang sedang mengelus-elus, tampak mata Mbak Epi kembali merem melek, sekali-kali dia melirik keg w terus ke isteri gw, mungkin takut ketahuan, tapi kelhatannya isteri gw tidak curiga sama sekali.

Gw gak sabaran, gw singkap aja ujung kain dasternya ke pangkal paha, “Hap” tiba-tiba tangan Mbak Epi menangkap kaki gw, gw agak kaget, gw kira dia marah, namun tiba-tiba, kaki gw diarahinnya langsung tepat disleangkangannya, “Oh my god” Mrs Vnya montok terasa banget. Mrs Vnya sangat membukit, gundukan nya amat terasa di ujung jari kaki gw. Tanpa ba bi bu..gw mainin aja jari-jari gw disekitar Mrs Vnya Mbak Epi. Terasa oleh jari-jari gw, Mbak Epi, pake daleman yang terbuat dari bahan satin, agak lembut, dan terasa kayak gak pake.

Mbak Epi mulai membuka pahanya agak lebar, mungkin supaya aksi gw lebih nyaman. Gw pun mulai mengangukkan jari jempol gw turun naik turun naik, “Ssss…” Mbak Epi kelepasan mendesis. Isteri gw mendengarnya, ” Lho kenapa Mbak?” Tanya istri gw. “Oh ini anu, bibir Mbak kegigit,” jawab Mbak Epi spontan. “Oh…pelan-pelan loh Mbak makannya.” Kata istri gw.

Agak dua menit juga gw mainin jari jempol gw di sekitar Mrs V Mbak Epi, Mbak Epi pun kelihatannya udah gak tahan, soalnya tangan kirinya juga ikut-ikutan membelai kaki gw, seakan member sinyal kalo Mbak Epi juga udah gak tahan pengen gw entot malem ini juga.

Gak lama kemudian kami pun selesai makan malam, Mbak Epi pun pergi ke ruang tamu, isteri gw pergi kedapur mau nyuci piringnya, sebenarnya tadi Mbak Epi pengen nyuci piring juga, supaya kami bias action didapur dalam rencana kami. Tapi ditolak istri gw. Mau gak mau rencana B harus dijalankan, Mbak Epi memberikan kode agar gw mau ngikutinnya ke ruang tamu. Bagai kerbau dicocok hidung, gw ngikut aja.

Diruang tamu Mbak Epi berbisik,”To, gimana nih gak bisa maen di dapur kita To, kamu puny aide?” tanyanya. “Waduh Mbak gak punya nih,” gw pun bingung. Didalam hati gw nyumpah-nyumpah, moga-moga aja ada keajaiban yang bisa memuluskan rencana gw ama Mbak Epi.

Eh, sepertinya doa gw didengerin ama Yang Kuasa, tiba-tiba diluar hujan sederas-derasnya, gw ama Mbak Epi pandang-pandangan sambil senyum. “Mbak nginap disini aja” bisik gw. “Apa boleh ama istrimu,” tanyanya. “Ya pasti boleh lah, Mbak Epi kan Kakak kandungnya,” jelas gw biar Mbak Epi gak berubah pikiran. Gw nyusun siasat, biar gw yang bilangin ke isteri kalo Mbak Epi tuh, tadi sedang Flu, jadi gak mungkin pulang kerumah ntar Flunya kambuh, biarkan Mbak Epi tidur di ruang tamu, besok pagi dia kan pulang, eh…gak disangka-sangka isteri gw menyetujuin. “Asyik…”

Tepat jam 12 malem, diluar hujan deras sederasnya memekikkan telinga. Isteri gw udah tertidur lelap. Perlahan-lahan gw tinggalin isteri gw dikamar yang lagi ngorok itu. Gw menuju ruang tamu, disana gw lihat Mbak Epi spertinya pun udah terlelap, sudah berselimut tebal, diatas sofa, mungkin karena kedinginan atawe karena takut dengar suara gledek diluar.

Perlahan gw dekatin sosok yang sedang berselimut tebal, gw singkap selimutnya, gw lihat Mbak Epi sdang memunggungi gw, wajahnya tengkurap disofa. Tampak rambutnya sudah tergerai, suara nafasnya penuh irama, seakan mengiringi setiap denyut nafsu gw untuk menggaulinya. Tampak lehernya yang putih mulus dan jenjang, serta bahunya yang indah, dengan dibungkus daster ijo muda bertali satu, gw geser lagi selimutnya kea rah kaki, tampak pinggangnya yang ramping, terus,…pinggulnya yang aduhai, makin kebawah semakin pandangan gw dibikin gak berkedip, ujung baju daster Mbak Epi tersingkap, bokongnya yang mulut padat, membuat jantung gw…gelagapan…wuiih…Mbak..Mbak. .sambil membelai pahanya yang mulus, gw membangunin Mbak Epi.

Mbak Epi cuma mendehem, gw langsung aja beri kecupan dilehernya, dengan penuh perasaan, gw kali ini gak mau buru-buru, gw jilatin telinganya sampe kelubangnya sekali pun, Mbak Epi sedikit bergeliat, gw yakin banget kalo Mbak Epi sedang sudah bangun dan sedang menikmati permainan gw. Ciuman gw menjalar kebahunya, gw geser dikit tali baju dasternya, sehingga memberikan pemandangan bahunya yang indah dan sexy itu.

Tangan gw pun mulai bereaksi, menyentuh tokednya yang masih tersembunyi dibalik daster itu. Kenyal, dan sedikit toge, “Gila suaminya Mbak Epi ini, bini kayak gini dimubazirin,” bisik gw. “Hmmm…To…jangan melamun terusin dong To…” Mbak Epi buyarin lamunin gw. Ternyata Mbak Epi sudah pengen cepat-cepat aja gw embat neh.

Tangan gw masih gerayangan sekitar tokednya, Mbak Epi tiba-tiba menarik tangan gw kearah Mrs Vnya, “To, jangan lama-lama foreplay, yang bawah ini udah gak tahan,” Mbak Epi berbisik lembut. Spontan aja gw nurut apa yang dimintanya, tangan gw mulai bekerja disekitar Mrs Vnya Mbak Epi, pertama gw hanya muter-muterin jari gw dibalik CDnya Mbak Epi, lama-lama gak tahan juga nih pengen masukin celana kelubangnya. Langsung aja tangan gw menyentuh MrsV Mbak Epi, “Hmmm…enak To…” desis Mbak Epi. Gw makin berani, gw sentuh jembinya, gw sentuh liangnya, “Wah mulai basah nih,” Kemudian jari gw udah mulai menerobos keliang wanita yang indah itu…”Wah, Mbak udah duluan basah ya..?” Tanya gw pelan. “Iya To..makanya buruan aja, takut isterimu entar bangun,” katanya. “Tenang Mbak, adik Mbak itu kalo udah tidur, bakalan bangun kalo ada azan subuh aja,” bujuk gw.

Mbak Epi Cuma terdiam, dia sangat menikmati permainan jari-jari gw disekitar Mrs Vnya, sekali-kali Mbak Epi tersentak, mungkin klitorisnya udah mulai terangsang. Gw mulai maju mundurin jari gw keliang MRsVnya…Ooh…To…OOhh…enaaak….Mb ak Epi menggelinjang. Ooh….lagiii………

Semakin kencang gw sodok jari gw ke MrsVnya Mbak Epi, semakin kencang pula desahannya, sehingga tubuh yang molek itu tersentak-sentak di sofa…Oh..Ooh…Ooh…To…enak..To…t erusiiiiin…ooouh…mendengar desahan Mbak Epi segitu dahsyatnya, gw gak tahan lagi. Buru-buru gw buka daster Mbak Epi, Mbak Epi pun membantu gw untuk membuka pakaian gw..nafsu kami sama-sama memburu….Mbak Epi dengan sigapnya membuka tali pinggang, terus celana gw…gw pun begitu, tangan gw gak henti-hentinya meremas-remas tokednya.

Kami masih setengah bugil, Mbak Epi gw tindih, gw ciuman setiap inchi wajahnya, tubuhnya, tokednya, Mbak Epi hanya melenguh sambil meremas-remas rambut gw, sekali-kali tangannya mencengkram bahu gw, tangannya memeluk pundak gw dengan erat. “To…masukin aja To…Mbak udah gak tahan…pengen rasain anumu itu,” Mbak Epi terengah-engah.

Mbak Epi langsung membuka cd gw, tangannya dengan sigap menggenggam rudal kesayangan gw itu, dengn sigap pula, dia membuka pahanya lebar-lebar…terus masukin rudal gw keliang MrsVnya. Srrk….rudal gw udah didalam, gw langsung aja, goyangin pantat gw, maju mundur mengikuti irama goyangan bokong Mbak Epi yang kenyal.

OOuh..To…Hmmm….To…enaaaak….ter us goyangnya sayaaang…OOuh…., gw pun semakin mempercepat gencotan gw….plek…plek..plek….bunyi kedua paha kami yang beradu, semakin menambah hot ‘pertarungan’ kami itu. Ouh…To….Mbak Epi menggelinjang sangat hebatnya..Gw puter posisi Mbak Epi untuk tengkurap dan sedikit menungging, gw pengen nyobain MrsV Mbak Epi dengan gaya doggy style, “Ngapain kamu To?” tiba-tiba Mbak Epi bertanya. “Lho emang Mbak Epi, gak pernah make gaya beginian sama suami?” Tanya gw. “Gak engak pernah tuh” jawabnya. “Y audah Mbak nikmatin aja gaya ini ya Mbak, pasti asyik,” gw bilang gitu ke Mbak Epi.

Selanjutnya..”OOuh,,,To…ehh,,h mm…To…koq enak ya..pake gaya ginian, Mbak sama suami, gak pernah pake ginian, biasanya Mbak telentang aja,” Mbak Epi merem melek jelasin pengalamannya sama suaminya. OOuh..Mbak gw pun merasa nikmat neh Mbak, ternyata lebih terasa sempit, dari belakang dari pada depannya, OOuh…Mbak..tangan gw pun meremas-remas toked Mbak Epi dari belakang, pnatat gw gak henti-hentinya memompa maju-mundur maju-mundur, Mbak Epi pun melenguh,,,,”OOuuuh….To….OOUh… To…makin kencaaag To..goyaaangnyaaa….OOOuh….

Sebenarnya gw juga udah pengen keluar, tapi Karena janji gw ke Mbak Epi pengen muasin dia mala mini, gw tahan sperma gw jangan keluar duluan. “Mbak kita keluar sama-samam nanti ya Mbak,” pinta gw. “Iya To, Mbak juga udah gak tahan ini,” katanya. Gw langsung ganti posisi kembali dengan posisi Mbak Epi telentang dibawah gw. Sambil menciumin wajahnya,… lehernya,… tangan gw sebelah kiri merams-remas topked Mbak Epi , bokong gw pun gak ketinggalan memberikan goyangan dahsyat buat Mbak Epi.

OOuh…ooouh,,,ooouuuuch..To…aga k dipercepat To..OOuh..oya…oouya..lebih kencaaaang To…Gw pun mempercepat goyangan gw…Ooh ya…gitu To…OOuh..OOuh…OOuh….Mbak mau keluar neh..OOuh…OOuh,…cepat To….”Kita sama-sama Ya Mbak..” pinta gw. “Iya…….Ouuh..Ouhh” kata Mbak Epi…To…..keluaaaaar To………ooouuh….gw juga MBak…..OOuh…kami pun terkulai lemas, bersimbah keringat dan sperma.

Kami sempat tertidur beberapa menit sambil berpelukan diatas sofa, untungaja gw tersadar sbelum subuh, Mbak Epi gw suruh berbenah, kemudian gw kecup keningnya dengan penuh kasih, “Ummuach, Makasih ya To…aku hebat sekali,” Mbak Epi pun membalas kecupan gw

https://jaguarqqvip.net/


luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com
domino99,