Selasa, 14 Januari 2025

BERCINTA DENGAN TEMAN MAMA KU

https://heylink.me/Jaguar.QQ/

                     JaguarQQ : Agen DominoQQ BandarQ dan Domino99 Online Terbesar




FORUM DEWASA - Saya adalah seorang siswa SMU swasta di sebuah kota X, nama saya adalah Endy dan saya saat ini berumur 18 tahun. Saya mempunyai suatu kebiasaan untuk melakukan onani, yah mungkin satu kali untuk satu hari. Saya mempunyai seorang teman, bisa dikatakan dia merupakan teman saya yang terbaik, karena hampir setiap hari kami selalu bersama.DominoQQ

Saya memang sering main ke rumahnya dan tentu saja, saya sering berjumpa dengan mamanya. Dapat dikatakan mamanya saat ini kira-kira berusia 36 tahun, tetapi tubuhnya terlihat bagaikan seorang gadis yang berusia 20 tahunan. Yah montok dan padat sekali dan saya memanggil mamanya Tante Nita. Tentu saja saya sering melakukan onani dengan mengkhayalkan mama kawanku ini.

Suatu hari, kami bersama teman-teman sekolah lainnya akan melaksanakan pesta barbeque dan tempat kami berkumpul merupakan rumah dari kawanku ini. Karena masih menunggu teman kami yang belum hadir, maka saya bermain di rumah kawanku ini dengan permainan dadu dengan yang lainnya. Mungkin karena kebetulan saya melempar dadunya terlalu kuat, maka dadu itu jatuh ke arah kamar mama temanku.BandarQ

Lalu dengan malas dan ogah-ogahan, saya bangkit untuk mengambil dadunya. Tetapi saat akan mengambil dadunya, saya melihat suatu pemandangan yang membuat saya sangat terangsang.
Saya melihat Tante Nita hanya memakai celana dalamnya saja, langsung saja kemaluan saya terbangun dan saya segera berjalan keluar sambil berusaha menenangkan diri. Sambil bermain dadu kembali, saya mengkhayalkan bentuk tubuh Tante Nita yang membuatku sangat terangsang. Tetapi sesaat kemudian, Tante Nita keluar dari kamarnya. Dengan serempak, kami memanggilnya dengan panggilan Tante, tetapi saya tidak berani untuk menatapnya, yah mungkin karena saya malu dan agak sedikit takut mengingat kejadian tadi. Karena temanku sudah memanggil, maka kami menyudahi permainan dadu kami dan kami mulai bergerak ke luar rumah. Sesaat sampai di luar rumah, saya melihat Tante Nita sedang berdiri sambil memandang ke arahku, lalu dia menyuruhku untuk menemaninya ke rumahnya yang lain untuk sekedar mengambil barang bekas. Dengan gugup saya menjawab dengan jawaban “Ya”, lalu Tante Nita mengambil kunci rumahnya dan kami pun berangkat. Sambil mengikutinya dari belakang, saya memperhatikan goyangan pinggulnya dan tentu saja saat ini saya sudah sangat ingin melakukan masturbasi, tetapi karena belum memiliki kesempatan, maka saya diam saja sambil mengkhayalkan sedang bersetubuh dengan Tante Nita. Sesampainya di rumah tersebut, saya melihat rumah tersebut sudah lama tidak dihuni, mungkin saja karena Tante Nita baru saja pindah ke rumah baru. Kemudian kami pun masuk ke dalam. Dengan hati-hati saya memperhatikan sekeliling rumah tersebut. Memang agak berdebu tetapi masih terlihat kalau rumah tersebut rapi. Sesampainya di ruang tengah rumah tersebut, Tante Nita bertanya kepadaku, “Apa yang kamu lihat waktu kamu mengambil dadu yang terjatuh itu tadi..?” Dengan terkejut saya menjawab, “Saya tidak melihat apa-apa, Tante…” Lalu Tante Nita berkata, “Kamu jangan bohong, nanti saya laporkan bahwa kamu berbuat yang tidak senonoh pada Tante..” Dengan terbata-bata, saya menjawab bahwa saya melihat Tante sedang ganti baju, tetapi saya tidak melihatnya dengan jelas. Lalu Tante Nita bertanya lagi, “Apakah kamu ingin melihatnya sekali lagi..?” Seperti mendapat durian runtuh, maka saya menjawab, “Kalo Tante Nita mengijinkan, saya mau Tante.” Sesaat Tante Nita diam, lalu dia menyuruh saya untuk mendekat. Dengan hati-hati, maka saya mendekat padanya, lalu Tante Nita menarik tangan saya dan mencium bibir saya. Tentu saja saya balas dengan ciuman kembali, sedangkan kedua tangan saya diam saja karena sesungguhnya saya dalam keadaan yang sangat tegang. Berbeda dengan tangan Tante Nita, tangannya mulai memegang kejantanan saya dan satunya lagi mulai meremas pantat saya. Kemudian Tante Nita mulai membuka resluiting celana saya dan mulai mengocok kemaluan saya. Saya merasakan kenikmatan karena tangan Tante Nita sangat lembut dan sangat berpengalaman. Karena terbawa perasaan nikmatnya, mata saya mulai tertutup dan mulai menikmati permainan Tante Nita. Belum berlangsung lama permainan kami, Tante Nita menghentikan permainannya, tentu saja hal ini membuat saya keheranan. Lalu saya mulai berani menatapnya dan saya bertanya kepadanya, “Tante, bolehkah saya memegang payudara Tante..?” Sambil sedikit tersenyum, Tante Nita berkata, “Terserah kamu sayang…” Lalu tangan saya mulai meraba payudara Tante, tetapi saya merabanya dari luar saja karena masih tertutup oleh baju dah BH-nya. Karena merasa kurang puas, maka saya bertanya lagi, “Tante, bolekah saya membuka baju tante..?” Dengan sedikit kesal, Tante Nita menjawab, “Kamu boleh melakukan semua yang ingin kamu lakukan, tubuh saya sekarang ini adalah milikmu sepenuhnya.” Dengan terbata-bata saya menjawab, “Terima kasih Tante…” Lalu Tante Nita berkata lagi, “Panggil saya Nita saja, tidak usah lagi sebutkan Tantenya.” Lalu saya menjawab, “Ya, Tante.., eh, maksud saya Nita.” Permainan terus berlanjut, saya mulai membuka kancing baju Tante Nita. Terlihatlah dua bukit kembar yang indah sekali, mungkin ukurannya sekitar 36A. Lalu saya mulai meremas dan mencium payudara Tante Nita dan Tante Nita mulai merasakan kenikmatan dan mengeluarkan suara desahan. “Uuhhh… ahhh..,” Saya mulai membuka ikatan BH-nya dan menyembullah payudaranya. Dengan liar bibir saya mulai menghisap payudara yang di sebelah kanan, sedangkan tangan saya meremas dengan keras payudaranya yang di sebelah kiri. Saya terus menghisap puting payudara Tante Nita kurang lebih 5 menit lamanya. Kemudian saya melepaskannya dan saya melihat putingnya sudah berwarna kemerah-merahan agak hitam. Kemudian Tante Nita mulai turun dan berjongkok di hadapan kemaluan saya. Dengan cepat dia menurunkan celana jeans saya sekaligus dengan celana dalam saya, lalu dia pun membuka mulutnya dan memasukkan kemaluan saya ke mulutnya. Hal ini membuat saya terkejut, kemudian Tante Nita mulai menghisap kemaluan saya dan memainkannya di dalam mulutnya yang membuat saya lupa diri. Tangan saya mulai menjambak rambut Tante Nita dan kaki saya mulai menjinjit karena saya merasakan kenikmatan yang hebat. Kurang lebih 10 menit kemudian, saya merasakan ada yang mendesak keluar seperti saat saya sedang melakukan masturbasi dan saya mulai mengerang, “Aduh, Nita… saya sampai nih, uh… uhhh… uuuhhh…” Dan Tante Nita mulai mempercepat permainannya dan akhirnya saya mengeluarkan cairan sperma saya di dalam mulutnya Tante Nita. Saya merasakan Tante Nita menghisap habis seluruh sperma saya dan menelannya. Dalam sisa-sisa kenikmatan, saya melihat Tante Nita bangkit dan mencium bibir saya, yang tentu saja saya balas dengan ciuman yang hangat dan liar. Hanya dalam hitungan beberapa detik, Tante Nita menekan kepala saya dan saya pun mengerti apa yang diinginkan Tante Nita. Saya mulai berjongkok dan Tante Nita berganti posisi dengan tubuhnya bersandar pada dinding rumah. Dengan perlahan saya menurunkan celana Tante, lalu saya melihat CD warna biru langitnya Tante Nita dengan segunduk daging yang menonjol di antara kakinya, selain itu saya juga melihat CD-nya mulai basah oleh cairan kemaluannya. Tante Nita berkata kepada saya, “Endy, cepat dong… Tante sudah nggak tahan nih…” Dengan tenang saya menjawab, “Iya Nita..,” dan saya mulai memeloroti CD-nya. Saya melihat rambut kemaluan Tante Nita yang sungguh subur tetapi terawat dengan rapi. Sejujurnya, saya sungguh tidak menyangka keindahan alat kelamin wanita ini berbeda dengan yang pernah saya lihat di film-film blue bahkan sangat berbeda. Dengan perlahan-lahan saya mulai menyapu kemaluan Tante Nita dengan lidah saya. Sesudah rambut kemaluannya basah oleh air liur saya, saya mulai memasukkan lidah saya di antara kemaluannya dan saya menemukan sebuah bijian kecil. Dengan lidah saya, saya mulai menjilati biji tersebut, hal ini membuat Tante Nita mengerang keenakan. “Endy.. terus.. Tante merasa nikmat sekali.. ah… ah… uhhh…” desahnya. Karena merasakan Tante Nita yang mulai terangsang, maka saya mempercepat jilatan saya pada bijian tersebut kurang lebih 6 menit Tante Nita menjerit sambil memegang dan menjambak rambut saya. “Uhhh… Tante sampai nihhh… ayo terus Ndyyy… ah… ehmmm… nikmat sekali.” Lalu saya melepaskan permainan lidah saya dan saya melanjutkan dengan tangan saya yang mulai menggosok dan mengocok kemaluan Tante Nita karena saya merasa jijik untuk menghisap air kemaluan wanita tetapi dengan cepat Tante menarik kepalaku dan mengarahkannya kembali ke kemaluannya. Karena ingin memuaskan Tante Nita, maka saya mulai memainkan lidah saya di kemaluan Tante Nita. Akhirnya Tante mengejang dan berteriak, “Ahh… ahhh… auuu… ehmmm… saya sampai.. terus Ndyyy… uhh… ahhh… aahhh…” Saya merasakan ada cairan yang keluar dari kemaluan Tante, maka saya menghisap seluruh cairan tersebut sampai kering dan kemudian saya menelannya. Karena melihat Tante Nita sedang merasakan sisa-sisa kenikmatannya maka saya bangkit dan mencium bibirnya, sedangkan tangan saya meremas payudaranya. Lalu Tante Nita membuka matanya dan tersenyum nakal sambil berkata, “Endy, kamu kurang ajar sekali, bahkan dengan mama kawan baikmu pun kamu berani berbuat begitu.” Dengan terkejut saya berkata, “Tapi Tante, saya tidak bermaksud begitu, kan tante yang…” Belum selesai saya berkata Tante Nita memotongnya dan berkata, “Saya tahu kamu tidak bermaksud begitu tapi kamu sudah melakukannya jadi ya ? nggak apa-apa deh… tante suka dengan permainan kam.Domino99

Lain kali kamu harus melakukannya dengan Tante lagi. Kalo tidak.. Tante akan laporkan kamu sama yang lainnya!” Lalu saya tersenyum dan berkata, “Tante nakal sekali, saya sampai terkejut, tapi Tante jangan khawatir, lain kali saya akan melayani Tante lagi, saya janji Nita.” “Kamu harus ingat janji kamu yah… sekarang kita harus berpakaian kembali, lalu kamu kembali ke teman kamu… kan kamu mau barbeque kan..?”kata Tante Nita kemudian yang sempat membuatku terkejut seperti sadar kembali kalau kami sudah meninggalkan acara pesta. Dengan cepat saya mulai membetulkan pakaian saya dan merapikan rambut saya sambil bertanya kepada Tante Nita, “Tante.., kita sudah pergi berapa lama sih..? Kalo ketahuan gimana, Tante..?” Dengan tenang Tante menjawab, “Kamu jangan khawatir, Tante akan mengaturnya supaya aman.” Lalu kami pun kembali ke rumah Tante Nita yang baru meskipun dalan hatiku masih ada sedikit keraguan.

Sesampainya disana, Tante berkata bahwa kami membongkar seluruh rumah untuk mencari kunci lemarinya sehingga memerlukan waktu setengah jam. Sambil bernafas lega, saya menoleh ke arah Tante Nita dan melihatnya tertawa, sungguh menggoda sekali. Beginilah awal kisahku dengan Tante Nita yang merupakan mama dari kawan baikku. Di pesta barbeque bersama temanku, saya merasa sangat tidak tenang bahkan terasa ada yang ingin dikeluarkan. Akhirnya saya pun melakukan masturbasi di kamar mandi, tentu saja sambil mengkhayalkan Tante Nita. Dalam hati saya tentu saja sangat ingin untuk melakukannya dengan Tante Nita, tetapi yah…

Hari ini sudah lewat 2 minggu sejak kejadian di malam pesta barbeque itu. Saya sendiri sudah tidak sabar dan frekuensi onani saya malah semakin meningkat, bahkan bisa tiga kali dalam satu hari. Tetapi siang harinya, ketika baru pulang dari sekolah, sesampai di rumah dan duduk di kursi sambil melepas sepatu, saya menggerutu, “Aduh, hari ini kok panas sekali…”Tetapi tiba-tiba saya mendengar pembantu saya berteriak, “Mas Endy ada telpon tuh..!” Lalu sambil malas-malasan saya bangkit dan mengambil telepon sambil menjawab, “Halo..?” “Ini Endy yah..?” tanya orang lawan bicara saya. Saya jawab, “Iya, disana siapa yah..?” “Kamu udah lupa yah ama saya..?” dengan logat memancing. Karena merasa dipermainkan, saya mulai emosi dan menjawab, “Disana siapa sih kalo nggak mo bilang lagi saya tutup teleponnya nih..!””Kok marah sih..? Nanti tante laporkan kamu lho dan nggak tante kasih kamu kenikmatan lagi.” kata lawan bicara saya lagi. Mendengar kata-katanya yang terakhir tadi, saya jadi teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu dan saya langsung menjawab lagi, “Oh, ini Tante Nita yah..? Sori Tante gua lagi nggak mood nih… Tante sih main-main aja…” Lalu Tante Nita berkata “Nggak mood yah..? Jadi sama Tante juga nggak mood dong..? Tadinya Tante mo ajak kamu ke rumah Tante nih, abisnya lagi sepi nih… tapi nggak jadi deh..” Dengan cepat saya memotong, “Bentar dulu Tante, kalo Tante sih gua jadi mood lagi nih, emang teman saya (maksudnya anak Tante Nita yang menjadi teman baik saya) nggak ada di rumah yah..?” “Kamu tenang aja deh… pokoknya dari sekarang (saat itu jam 12:30) sampe nanti sore jam 5 kita aman deh… jadi datang nggak..?” tanya Tante Nita.

Tentu saja saya menjawab, “Jadi dong Tante.. bentar lagi saya kesana Tante, Tante tunggu yah..!” Setelah itu, saya segera menutup teleponnya seperti tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Kemudian saya segera berlari ke kamar dan ganti baju, terus segera keluar rumah menuju rumah Tante Nita, karena dari rumahku ke rumah Tante Nita memerlukan waktu sekitar 15 menit jalan kaki. Karena ingin cepat tiba disana, maka saya naik angkot (angkutan umum perkotaan) saja. Sesampainya di rumah Tante Nita, saya segera memutar ke belakang karena lewat pintu samping rumah Tante Nita lebih aman dan sepi. Kemudian dengan perlahan saya mengetuk pintu dan terdengar Tante Nita menjawab, “Iya, bentar…” lalu Tante Nita membuka pintu dan mempersilakan saya masuk.Di depan saya, Tante Nita berpakaian kaos oblong dan celana pendek putih.

Berpenampilan seperti itu tentu saja sama dengan menampakkan BH dan CD-nya yang berwarna hitam secara sengaja kepada saya. Dalam pikiran saya mungkin Tante Nita sengaja membuat saya terangsang, tetapi saya berusaha tetap tenang, yah.. stay cool deh pokoknya. Setelah itu, Tante Nita menyuruh saya mengikutinya dan saya pun berjalan. Tetapi begitu melihat pinggulnya yang bergoyang, saya tidak tahan lagi, segera saya menarik Tante Nita dan menciumnya. Tante Nita pun segera membalas ciumanku dan tangan saya segera bergerak untuk membuka bajunya. Bersamaan dengan itu, Tante Nita berkata, “Jangan di sini dong sayang..!” “Dimana Tante..?” tanya saya. “Di kamar Tante aja…” kata Tante Nita. Lalu saya pun segera menarik tangan Tante Nita dan berkata, “Jadi, tunggu apa lagi Tante..?” Setelah sampai di kamar Tante Nita, saya segera Sementara itu tangan saya segera bergerak aktif untuk meremas buah dada Tante Nita. Tiba-tiba Tante Nita mendorongku dan dengan terkejut saya bangkit, tetapi kemudian Tante Nita segera menarikku dan naik di atas tubuhku sehingga posisi saya sekarang adalah Tante Nita di atas tubuh saya. Saya segera membuka baju Tante Nita sehingga tampaklah buah dadanya yang masih dibungkus oleh BH hitamnya. Saat itu Tante Nita menunduk sehingga sekarang buah dadanya tampak di depan mataku dengan sangat jelas. Untuk menghemat waktu dan karena memang saya juga sudah sangat terangsang, maka saya segera melumat payudara Tante Nita dan melepas BH hitamnya.

“Aduh enak sekali, ahhh… uh… sttt…” desahnya yang menandakan Tante Nita sudah terangsang. Karena sudah terangsang maka Tante Nita segera melepas baju dan celana saya, sehingga saya hanya tinggal memakai CD saja. Kemudian saya berguling ke samping sehingga posisi saya sekarang di atas Tante Nita, lalu saya segera merangkak turun dan melepas celananya sehingga tampaklah pemandangan di depan wajah saya sebuah surga kenikmatan yang masih terbungkus oleh kain hitam. Tanpa menunggu aba-aba darinya, saya langsung melepaskan CD-nya Tante Nita dan tampaklah kemaluan Tante Nita yang terawat dengan rapi. Sungguh sangat indah dan berbeda dengan yang pertama kali saya lihat dulu. Dengan perlahan saya menjilati permukaan vaginanya dan Tante Nita pun segera mengerang. “Aduh, nikmat sekali… sungguh… geli tapi… ahhh… uhhh… terus Endy…” Segera saya menaikkan permainan saya sehingga tidak lama kemudian Tante Nita pun menjerit, “Aduh saya sampai Ndyyy… segera keluar… ahhh…” Lalu saya segera menghisap bijian di kemaluan Tante Nita sehingga saat cairan kemaluan Tante Nita keluar, segera saya hisap habis dan menelannya. Dalam sisa kenikmatannya, Tante Nita berkata, “Endy… biarkan Tante Nita istirahat yah..? Nanti Tante Nita baru melanjutkannya kembali.” Saya segera menjawab, “Iya Tante…” Setelah beristirahat 15 menit, Tante Nita mulai bangkit dan segera melepas CD saya. Tampaklah kemaluan saya yang masih dalam posisi setengah tiang. Tante Nita segera memasukkannya ke dalam mulutnya dan menjilatinya. Di dalam mulut Tante Nita, kemaluanku segera mengeras hingga dalam posisi yang siap tempur. Tante Nita sungguh sangat berpengalaman dalam menjilati kejantanan pria yang dengan cara menghisap dan kadang-kadang mengigitnya dengan perlahan. Hal ini membuatku sangat terangsang. Karena sudah tidak tahan lagi, maka saya segera menarik tubuh Tante Nita ke atas dan dan membalikkannya. “Tante Nita, saya sudah tidak tahan lagi, sekarang saya masukkan yah Tante..?” tanya saya yang sudah merasa sangat terangsang. Tante Nita menjawab, “Terserah kamu Ndyy.., tapi hati-hati yah soalnya punya tante udah lama nih nggak digunakan..”

Dengan pelan dan hati-hati saya mengarahkan kepala kemaluan saya ke dalam lubang kemaluan Tante. Kepala kemaluan saya mulai menyentuh bibir kemaluan Tante Nita, lalu saya menekannya sehingga kepala kemaluan saya sudah terbenam ke dalamnya. Tante Nita segera menjerit, “Aduh… sakit sekali… pelan-pelan Ndy…”Tetapi saya sudah tidak perduli lagi, saya segera melanjutkan aksi saya dengan menekan kemaluaan saya lebih dalam lagi dan kepala kemaluan saya juga mulai terasa perih karena ini adalah pertama kali saya melakukan hubungan intim. Saya tetap menekan batang kemaluan saya sehingga tidak lama kemudian, seluruh kemaluan saya sudah terbenam dalam kemaluan Tante Nita. Tante Nita lalu mengerang, “Aduh sakit sekali… biarkan tetap di dalam Endy, aduh… ahhh… ehmmm… uh…” Setelah terdiam hampir 5 menit, saya segera menggoyang pinggul saya dengan naik turun secara berirama dan Tante Nita pun mengimbanginya dengan goyangan pinggulnya yang membuat saya merasa sangat keenakan. Tante Nita tiba-tiba mengerang secara tidak jelas, “Aduh… sakit sekali, tapi enak sekali, terus Endy…” Saya sudah tidak memperdulikan Tante Nita dan hanya terus memacu kemaluan saya untuk mencapai kenikmatan.DominoQQ

Tidak lama kemudian, setelah 8 menit, saya mendengar Tante Nita menjerit kembali, “Aduh… saya sampai Ndyyy… akan segera keluar nih…” Saya menjawabnya, “Sebentar lagi Nita, sebentar lagi… saya juga hampir sampai nih…” Tidak lama, Tante Nita tiba-tiba mengejang dan saya merasakan ada cairan hangat di dalam kemaluan Tante Nita dan Tante Nita mengerang lagi, “Aduh… ahhh… aku sampai Endy… nikmat sekali…” Tidak sampai disitu, selang beberapa detik, saya merasa juga ada yang mendesak keluar dari kemaluan saya dan akan segera meledak. Rupanya saya juga telah mencapai kenikmatan dunia dan saya menjerit, “Saya sampai Tante eh… ahhh… nikmat sekali” Lalu saya segera jatuh dan berbaring di samping tubuh Tante Nita sambil merasakan sisa kenikmatan yang telah kami capai berdua. Setelah beristirahat, kami melakukannya lagi 3 kali dalam tempo yang cepat. Tante Nita dan saya sama-sama mencapai puncak kenikmatan 3 kali. Setelah mandi dan pikiran kami sudah tidak terpengaruh nafsu lagi, Tante Nita berkata padaku, “Tante Nita minta maaf Endy… tadi Tante Nita telah merenggut keperjakaan kamu… sungguh Tante Nita minta maaf..” Tetapi saya segera berkata, “Tidak apa-apa Tante, saya rela kok menyerahkannya pada Tante, sungguh saya sangat menyukai permainan tadi. Tapi Tante Nita harus janji kalo Tante Nita lain kali harus memberikan kenikmatan yang sama lagi kepadaku..!” Sambil tersenyum, Tante Nita berkata, “Iya… Tante sangat senang dengan permainan tadi, Tante janji, Tante bersedia melayani kamu lagi, tapi kamu juga harus membuat Tante merasa keenakan seperti tadi..” dan saya mengiyakannya. Hubungan kami hampir berlangsung selama 2 tahun, tetapi kami melakukannya dengan cara-cara yang tradisional. Saya maupun Tante Nita tidak menyukai gaya-gaya yang terlalu berani seperti gaya anjing maupun yang lainnya. Hubungan kami sekarang meskipun belum diputuskan berakhir, tetapi kami hampir tidak pernah berjumpa lagi, karena saya sudah melanjutkan kuliah di luar kota yang tentu saja dengan anaknya Tante Nita. Hubungan saya dengan Tante Nita sampai sekarang tetap menjadi rahasia kecil kami. Jika saya liburan dan pulang ke kampung halaman saya, Tante Nita selalu meminta bagiannya dan saya pun dengan senang hati melayaninya. Ini merupakan pengalaman yang saya alami sendiri. Meskipun banyak yang kurahasiakan disini, tetapi cerita ini adalah benar-benar terjadi.

https://heylink.me/Jaguar.QQ/


Minggu, 12 Januari 2025

BERCINTA DENGAN CALON ISTRI ORANG

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

Sabtu, 11 Januari 2025

PENGALAMAN BERSAMA SRI

https://heylink.me/Jaguar.QQ/

            JaguarQQ : Agen DominoQQ BandarQ dan Domino99 Online Terbesar



FORUM DEWASA - Namaku Adi anak ke-4 dari 8 bersaudara, waktu itu liburan kenaikan kelas baru saja dimulai dan biasanya selalu aku rayakan bersama teman2ku dengan acara2 seperti berkemah di pantai atau menelusuri hutan lindung yang berjarak puluhan kilo dari kota kediamanku.

Tapi saat liburan ini hal tersebut diatas tidak dapat kami lakukan karena sebagian besar teman2 dekatku itu menghabiskan liburan mereka keluar kota / pulau (kotaku berada dipulau Kalimantan) sehingga aku putuskan untuk menghabiskan liburan kerumah nenekku di kampung (kira-kira 143 Km dari kotaku). Setelah menempuh perjalanan selama 1 hari sampailah aku dirumah nenekku, waktu itu sekitar jam 4 sore.DominoQQ

Ternyata disana sudah ada beberapa sepupuku (dari kota yg lain) yang juga akan merayakan liburan mereka selama kurang lebih 2 mingguan, umur mereka rata2 antara 8 – 12 tahun. Yang paling besar namanya Sri (anak sulung dari adik mamaku, ketiga adiknya laki-laki semua) berwajah manis dengan hidung yang mancung dan kulit tubuh putih mulus, walaupun baru kelas 1 SMP tetapi badannya sudah padat berisi dan mulai berbentuk (bongsor).

Kejadiannya bermula ketika kami sama2 mandi sore (sekitar jam 5-an) di sungai kecil yang dangkal (kira2 100 m dibelakang rumah nenek) saat itu secara tidak sengaja aku melihat kearah Sri yang sedang membetulkan kain kembannya yang kendur, betapa kagetnya aku begitu terlihat selintas susu Sri yang mulai ranum dengan puting yang kemerah2an (karena kulit Sri sangat putih dan mulus).

Aku merasakan kontolku langsung ngaceng dan keras (maklum, untuk umurku saat itu memang sedang tegangan tinggi), lalu aku berfikir keras mencari cara untuk mendekati Sri (kami sudah lama tidak bertemu, sehingga kurang akrab).

Ketika aku tengah melamunkan hal-hal jorok tiba-tiba Sri berteriak “Aduh !” dan secara reflek aku menoleh kearahnya ternyata dia terpeleset saat berjalan dipinggir sungai dengan segera aku berlari kearahnya untuk menolongnya (saat itu sepupu2ku yang lain sedang asyik bermain air sambil mandi sekitar 15 m jaraknya). “Ada apa Sri ?” tanyaku, “Aku terpeleset Bang waktu hendak naik dari sungai ” jawabnya sambil meringis menahan sakit.

Aku langsung membopong tubuhnya ke tempat permandian yang terbuat dari papan seluas 3 m persegi, lalu membantu mengurut kakinya yang keseleo. Pertama kali aku memijit kakinya Sri berteriak kecil “Aduh! sakit Bang!”, “Oke.. oke.. aku akan memijitnya pelan-pelan” sahutku.

Kemudian aku mengendurkan pijitanku di sekitar kakinya, sambil terus meringis Sri memejamkan matanya menahan sakit “Wah, kesempatan untuk mengintip nih!” fikirku sambil melotot kearah susu Sri yang mulai berbentuk dan yang lebih menggairahkanku kain kembannya yang basah membuat susunya samar2 terlihat jelas dan membayang. Semakin lama semakin asyik aku memijiti kakinya sementara itu Sri cuma tinggal memejamkan matanya saja tetapi suara rintihannya sudah tidak terdengar lagi.BandarQ

Perlahan-lahan aku mulai menggeser pijatanku dari engsel kakinya kearah betis dan terus keatas betis tepat dibelakang engsel lututnya “Wah, putih benar kulitnya mana mulus lagi..” fikirku sambil menelan ludah. Sekarang gerakan tanganku bukan memijit lagi tetapi telah berubah jadi mengelus-elus, sementara Sri semakin terpejam dan samar2 kudengar suara nafasnya semakin tidak beraturan “Sudah terangsang dia..” fikirku.

Tiba-tiba sepupu2ku yang tadi asyik mandi sudah berada didekat kami “Ada apa Bang Adi? Kenapa dengan kaki Kak Sri?” tanya mereka lugu, aku dengan cepat menurunkan tanganku kembali kearah engsel kaki Sri. “Ini, tadi dia terpeleset di tepi sungai dan kakinya keseleo jadi abang bantu membawanya kesini dan memijat kakinya” jawabku enteng. Kulihat raut wajah Sri yang menunjukkan sedikit kekecewaan karena terganggu oleh adik2nya.

Kemudian kami beranjak pulang karena hari sudah mulai malam, dengan agak terpincang Sri berjalan sambil berpegangan denganku. Malam itu aku tidur larut sekali karena keasyikan ngobrol dengan kakek dan pamanku, ketika masuk kekamar tamu kulihat sepupu2ku (yang laki-laki) sudah tidur semua tetapi tidak beraturan sehingga aku tidak melihat ada ruang untuk aku tiduri. Kemudian aku keluar kamar berniat tidur di ruang TV, tiba-tiba terdengar suara kakekku yang bertanya mengapa aku tidak tidur di kamar tamu setelah aku jelaskan beliau menyuruhku untuk tidur dikamar nenek bersama nenekku (Kakekku punya kamar sendiri bersebelahan dengan kamar nenek).

Pertama-tama aku tidak melihat dengan siapa nenek tidur diatas ranjangnya karena lampu kamar yang sudah dimatikan dan hanya bercahayakan lampu teplok (nenekku selalu tidur dengan lampu minyak tanah yang digantung di dinding kamarnya), aku langsung merebahkan diri dilantai yang beralaskan tikar dengan sebuah bantal itu. Sekitar sepuluh menit saat akan terlelap tiba2 aku melihat ada yang berdiri dari ranjang nenekku menuju keluar untuk buang air kecil.

Setelah kembali baru aku tahu bahwa yang keluar barusan adalah Sri sepupuku “Kebetulan nih..” fikirku, seketika itu pula hilang rasa kantukku dan secara perlahan-lahan dengan setengah berbisik aku bertanya “Gimana Sri kakimu, masih sakit?” “Eh Bang Adi, belum tidur Bang?” Sri balik bertanya. “Iya nih, aku baru saja selesai ngobrol sama kakek dan paman. Jadi keadaan kakimu gimana?” lanjutku bertanya. “Masih sedikit sakit Bang, tapi agak mendingan setelah diolesi nenek dengan minyak urut” jawabnya. “Coba sini aku bantu pijiti” kataku asal, “Memangnya abang belum pengen tidur?” tanyanya “Iya, sekalian nungguin mataku ngantuk” jawabku sekenanya.

“Tapi pelan2 ya Bang?” “Iyaa..” jawabku bersemangat. Dengan posisi aku di lantai dan Sri berbaring diatas ranjang (nenekku sudah lama terlelap) aku memulai aksiku seperti tadi sore. Tapi untuk saat ini aku tidak berlama-lama memijit bagian kakinya yang sakit, karena utk sesaat kemudian tanganku sudah berada tepat dibelakang lutut Sri dengan gerakan membelai bukan memijit. “Mmmh. geli Bang.” ujar Sri sambil terpejam, aku hanya diam. Sekitar sepuluh menit kemudian kudengar nafasnya sudah mulai tak beraturan, lalu aku mulai berani menaikkan sasaran tanganku kearah pahanya yang putih mulus (saat itu dia hanya mengenakan celana pendek yang agak longgar).Domino99

Sri kembali mendesah lirih “Sshh..” sementara kedua tanganku semakin gila menggerayangi kedua pahanya yang semakin terbentang lebar. Untuk sesaat kami masih sibuk dengan aktifitas yang mulai memanas itu, lalu aku berinisiatif untuk menyuruhnya turun dari atas ranjang “Coba dibawah saja Sri sama Abang, nanti mengganggu nenek” ajakku setengah berbisik. Ia hanya mengangguk lemah menanggapi ajakanku sambil turun kebawah secara perlahan-lahan.

Begitu Sri mulai merebahkan tubuhnya disampingku, aku mulai melanjutkan aksiku yang terhenti sejenak tadi. Semakin keatas tanganku, semakin cepat pula dengusan nafas Sri terdengar. Tanpa ragu-ragu aku mulai menyentuh bagian pinggir celana dalam Sri dengan jemariku, sesaat kemudian jari-jariku sudah tepat berada dibagian depan cd-nya “Ahhh.” terdengar dengusan lirih yang panjang dari Sri dengan mata yang tetap terpejam.

Kurasakan cairan kental yang mulai membanjiri celana dalamnya semakin banyak. Ketika kulihat mulutnya sedikit terbuka, dengan reflek aku langsung menyumbat mulutnya dengan mulutku “Ehh.!” serunya dengan mata melotot menatapku sambil melongo. Aku terus memainkan lidah dan bibirku didalam mulutnya sekenanya (maklum aku juga belum pernah berciuman dengan seorang gadis), sejenak Sri terperangah. tetapi semakin lama kulihat matanya semakin redup karena merasakan dua sensasi kenikmatan di dua tempat yang berbeda (bibir dan vaginanya). Kurasakan mulutnya mulai bergerak bersamaan dengan lidahnya, menyambut liarnya lidahku yang menari bebas didalam mulutnya “Mmmmhhhh. sshhhhhh.” bunyi nafas kami bersamaan yang sedang didera libido hebat.

Sekarang aku mulai menjilati bagian leher Sri yang jenjang hingga kebelakang telinganya (foreplay ini kuketahui dari film2 bokep yang sering aku lihat bersama teman-temanku) seiring dengan pelukannya yang semakin erat melingkari tubuhku, aku semakin liar. sesudah beberapa kali lidahku bolak-balik menjilati leher dan telinganya segera kuangkat baju kaos oblong Sri yang sudah acak2an dengan maksud membukanya.

Agak susah juga karena baju yang dipakainya agak sedikit ketat dan ketika aku berhasil membukanya. ups!! Ternyata dia tidak memakai BH! Sejenak aku tertegun menyaksikan pemandangan indah dua bukit kembar yang sedang mekar dan mulai mengeras dihadapan mataku dengan kedua puting yang merah menantang seolah-olah mengundangku untuk mencicipinya.

Dengan wajah malu2 Sri menutupi kedua susunya dengan tangannya, tak kubiarkan lama.. segera kuserang lagi bibir mungil yang tersaji indah disampingku dengan hebat. Hingga perlahan-lahan mulai kuturuni leher Sri jengkal demi jengkal hingga. mulutku tepat bersarang di puncak bukitnya yang sebelah kiri!

“Ahhh.!” seru Sri merasakan rasa geli bercampur nikmat di kedua puting susunya ketika lidah dan mulutku secara bergantian menjilat dan menyedot kedua bukit kembarnya dengan rakus. Sementara mulutku sibuk, tanganku mulai menyusup dari atas celana dalamnya kepermukaan vaginanya. Kurasakan bulu-bulu halus yang masih jarang tumbuh disana, lalu dengan perlahan-lahan kumasukan jari tengahku ke liang vaginanya yang masih sempit itu. Kugesek ke kanan dan kiri ujung jariku dipermukaan vaginanya “Ohhh. ahhh. mmmmmhh.” dengusan Sri semakin tak terkendali, sesaat kemudian. “Aku mau kencing Banghh.” ucapnya lirih. Aku hanya diam sambil mempercepat sedotan mulut dan gesekkan jari tanganku di kedua daerah sensitifnya, lalu. “Ahhh. ahhh.DominoQQ

mmmmmhgh.” secara tiba-tiba Sri mengejang sambil tubuhnya terangkat tinggi keatas. untuk beberapa detik kemudian terhempas kebawah secara cepat “Dug..” bunyi pantatnya yang montok ketika terhempas kelantai. Aku rasakan jepitan yang lumayan keras di liang vaginanya pada jariku dan berdenyut-denyut kurang lebih 10 detik lamanya “Dia sudah orgasme nich.” fikirku sambil menghentikan seranganku kemudian menatapnya dengan tersenyum.

“Gimana yang, enak nggak?” tanyaku setengah berbisik, dia hanya mengangguk sambil tersenyum puas dengan kedua matanya masih terpejam. Kemudian secara tiba-tiba Sri merengkuhku kedalam pelukannya sehingga kami sekarang saling berpelukan kembali dengan posisi aku diatas dan dia dibawahku. “Enak Bang, enaaak sekali.” bisiknya ditelingaku sambil mempererat pelukannya. Sri tidak peduli lagi akan keadaannya yang sudah setengah bugil pada bagian atas, dia seolah-olah tidak akan melepaskanku lagi “Aduh. gue nanggung nih.” fikirku sambil membelai-belai rambut Sri yang hitam sebahu itu dan mengecup keningnya.

Tapi kalo aku mulai lagi sekarang aku takut Sri nggak merasakan sensasi sehebat yang tadi, jadi aku biarkan dia beristirahat sejenak. Setelah kurang lebih sepuluh menit kurasakan pelukannya mulai mengendur lalu kuperhatikan wajahnya yang cantik secara seksama, “ah.. sudah tertidur dia..” gumamku setelah terdengar dengkur halus yang teratur keluar dari hidungnya yang mancung.

Perlahan-lahan kulepaskan diriku dari pelukannya lalu kuusap batang kontolku yang belum mati2 dari tadi, kubuka sedikit kaki Sri yang sedang tidur terlentang dan tanganku mulai beraksi mempereteli celana pendek dan celana dalamnya secara bergantian sehingga tebentanglah pemandangan indah tubuh seorang gadis belia yang sedang mekar-mekarnya dihadapanku. Dengan sedikit tergesa-gesa akupun mulai menanggalkan seluruh pakaianku, lalu pelan-pelan kuarahkan kepala kontolku ke liang vagina Sri yang masih merah dan berbulu jarang itu.

Begitu hati-hati kugesek-gesekan kepala kontolku ke vagina Sri dengan gerakan keatas dan kebawah, semakin lama kurasakan semakin banyak lendir licin dari liang vagina Sri yang membasahi kepala kontolku. Tapi saat hendak kutekan kedalam kurasakan liang vagina Sri yang terlalu sempit untuk ukuran kontolku dan agak sedikit sakit di kepala kontolku, “kalo aku jebol perawannya sekarang berabe nih, soalnya nanti darahnya akan membasahi tikar dikamar nenek” fikirku.

Kuputuskan untuk tidak memasukkan kontolku terlalu dalam, hanya sepertiganya saja. Setelah agak lama dan dengan bersusah payah kutekan, kurasakan batang kontolku sudah terbenam sepertiganya kedalam liang vagina Sri lalu kupompa pantatku naik turun secara teratur dan perlahan-lahan. Mulanya agak seret dan sempit tetapi lama-kelamaan sudah mulai lancar “mmhhhh. ” dengusku sambil memperhatikan wajah cantik Sri yang masih tertidur pulas. Makin lama nafsuku makin tidak terkendali sehingga gerakan pantatku semakin cepat, tiba2 Sri terbangun. “Bang.!” serunya tertahan begitu melihat tubuhku sudah berada diatas tubuhnya dalam keadaan telanjang bulat dengan batang kontolku menghunjam diselangkangannya.

Tanpa menghentikan gerakan pantatku segera kulumat mulutnya yang sedikit terbuka dan. yess! Usahaku berhasil! Semakin lama kulihat matanya mulai meredup kembali dan tubuhnya mulai bergoyang kekanan dan kekiri mengimbangi gerakan tubuhku, aku semakin bernafsu. “ahhh. ohhhh.” desisnya perlahan. Untuk semakin membuatnya bernafsu kuarahkan jilatanku ke leher dan bawah telinga Sri lalu yang terakhir kukulum dan sedot secara bergantian kedua bukit kembarnya yang putih dan mulus sambil kuselingi dengan jilatan2 cepat “mmmhhhhh.. ” serunya lirih semakin bernafsu.

Setelah kurang lebih sepuluh menit kemudian. “Banghh. aku mau kencing lagihh.” ucapnya lirih tapi tidak kujawab malah semakin kupercepat gerakan memompaku diatas tubuhnya karena kurasakan juga sesuatu dari dalam kontolku yang akan melesak keluar. “Ahhh. uhhh.” desahan Sri semakin liar seiring dengan gerakan pantatnya yang semakin kuat sehingga tanpa disadari posisi kami sekarang sudah mepet didinding kamar nenek, aku juga nggak mau kalah pompaan pantatku diatas tubuhnya semakin liar bahkan menjurus kasar. Lalu tiba-tiba Sri memelukku serta mengangkat pantatnya tinggi-tinggi secara reflek aku juga mengangkat pantatku untuk menjaga agar batang kemaluanku tidak terlanjur menjebol keperawanannya dan. “aaaaaaahhhh.” desahnya panjang ketika mengalami orgasme hebat untuk kedua kalinya, kurasakan denyutan vagina yang sangat kuat pada kepala kontolku yang sedang berada didalamnya membuat sensasi kenikmatan yang tidak terhingga pada diriku sehingga tanpa dapat kutahan secara tiba-tiba batang kontolku berdenyut keras lalu. “aaahhhh.. ” crot.! crooott. crooot! Cairan spermaku juga menyusul menyembur dengan keras kedalam liang vagina Sri membasahi rongga kemaluannya yang juga sudah penuh dengan lendir sehingga cairan spermaku ada yang meleleh keluar.

Kupeluk erat tubuh Sri yang sudah bermandikan keringat, untuk beberapa saat lamanya kami berpelukan sambil terpejam dengan sepertiga batang kemaluanku tertancap di vaginanya. Ada sekitar lima sampai enam kali semprotan kurasakan dari ejakulasiku tadi yang membuat liang vaginanya terasa becek, kemudian kucabut batang kontolku yang sekarang terlihat kemerah-merahan karena jepitan vagina Sri yang masih perawan itu.

Kuambil celana dalamku yang tergeletak disamping tubuhnya lalu kuusapkan disekitar liang vaginanya untuk membersihkan lelehan air maniku agar tidak tumpah ke atas tikar nenek, sekilas baunya seperti aroma pemutih pakaian.

“Tadi abang kencing didalam memek Sri ya?” tanyanya pelan, aku lalu tersenyum “Itu bukan kencing Sri, tapi sperma abang. itu tandanya abang sudah sampai di puncak kenikmatan sama seperti kamu” jawabku sambil membetulkan posisi badanku. Kemudian kukecup lembut bibirnya lalu berkata “Terimakasih sayang, memekmu sangat enak” lalu dipeluknya aku seraya berbisik “Sama-sama Bang, punya Abang juga enaaak banget nanti setiap malam kita begini lagi ya Bang?” ujarnya lirih sambil tersenyum manis sekali.

Malam itu kami tertidur sambil berpelukan sampai terbangun sekitar jam setengah empat pagi saat ayam mulai berkokok, kemudian kami berpakaian kembali dan merapikan diri agar tidak ada orang dirumah nenek yang curiga atas kejadian tadi malam.

https://heylink.me/Jaguar.QQ/


luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com
domino99,